LINTAS6.com, MANGGARAI - Gempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026 meninggalkan dampak yang tidak hanya terlihat dari kerusakan bangunan. Di balik retakan dinding dan masa tinggal di tenda yang cukup panjang, terdapat pengalaman emosional yang masih dirasakan oleh anak-anak penghuni Panti Asuhan Wae Peca.
Bagi mereka, suara getaran dan kekhawatiran akan gempa susulan masih membekas dalam ingatan. Karena itu, proses pemulihan tidak cukup dilakukan melalui perbaikan fasilitas semata. Anak-anak juga membutuhkan ruang yang aman untuk kembali merasa tenang, percaya diri, dan bahagia.
Kebutuhan itulah yang mendorong pelaksanaan layanan Dukungan Psikososial (Psychosocial Support/PSS) dan Promosi Kesehatan (Promkes) bagi penghuni Yayasan Sesamamu, Panti Asuhan Wae Peca.
Melalui pendekatan yang menyenangkan, anak-anak diajak menjalani proses pemulihan secara perlahan tanpa tekanan. Kegiatan dikemas dalam bentuk permainan, bernyanyi, bergerak bersama, dan berbagai aktivitas kelompok yang mendorong interaksi positif.
Bermain Menjadi Media Pemulihan
Sebanyak 23 anak dan remaja mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri dari sembilan peserta laki-laki dan 14 peserta perempuan.
Relawan pendamping, Lediana Jelihat, menjelaskan bahwa pendekatan kreatif dipilih karena lebih mudah diterima oleh anak-anak yang sedang menghadapi situasi pascabencana.
"Kami memberikan layanan kepada anak-anak dan remaja yang berjumlah 23 orang. Kegiatan yang dilaksanakan berupa ekspresi kreatif dalam bentuk permainan, bernyanyi, dan bergoyang, hingga psikoedukasi melalui lagu tentang cara melindungi diri saat terjadi gempa," terang Lediana.
Menurutnya, aktivitas sederhana tersebut memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar hiburan. Permainan menciptakan suasana nyaman yang memungkinkan anak-anak mengekspresikan perasaan mereka secara alami.
Ketika bermain bersama teman sebaya, anak-anak dapat melupakan sejenak pengalaman menegangkan yang pernah mereka alami. Mereka kembali tertawa, berinteraksi, dan merasakan kebersamaan yang penting bagi proses pemulihan psikologis.
Melalui lagu-lagu edukatif, peserta juga mendapatkan pemahaman sederhana mengenai langkah perlindungan diri ketika terjadi gempa bumi. Metode ini membuat pesan kesiapsiagaan lebih mudah dipahami sekaligus diingat oleh anak-anak.
Trauma yang Masih Terasa
Meskipun kehidupan mulai kembali berjalan normal, dampak psikologis pascabencana masih dirasakan sejumlah penghuni panti.
Koordinator layanan psikososial, Roberta M. Mutis, mengungkapkan bahwa temuan dalam diskusi kelompok menunjukkan rasa takut masih memengaruhi aktivitas sehari-hari warga.
"Dalam pelaksanaannya, PSS dibagi menjadi dua kelompok. Saya mendampingi orang dewasa atau pengasuh, sedangkan kelompok anak-anak didampingi oleh relawan. Saat FGD, ada beberapa temuan yang saya dapat, seperti pengaruh trauma dan rasa takut yang menyebabkan aktivitas yang biasa dilakukan, seperti olahraga dan kegiatan lainnya, menjadi berkurang," jelas Roberta.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana membutuhkan waktu. Perasaan takut yang muncul setelah mengalami gempa besar tidak dapat hilang begitu saja.
Bagi anak-anak, situasi itu bisa memengaruhi keberanian, kenyamanan, bahkan rutinitas harian mereka. Karena itu, kehadiran pendampingan psikososial menjadi penting agar proses pemulihan berlangsung secara lebih sehat dan terarah.
Dukungan dari Lingkungan Sekitar
Dalam proses pemulihan pascabencana, dukungan lingkungan memiliki peran yang sangat besar. Kebersamaan, perhatian, dan rasa saling menguatkan menjadi sumber energi bagi masyarakat untuk bangkit.
Roberta menjelaskan bahwa terdapat satu kebiasaan positif yang membantu warga perlahan mengurangi rasa takut yang mereka rasakan.
"Menariknya, dengan adanya kebiasaan berdoa bersama, rasa takut dan trauma yang dirasakan masyarakat perlahan mulai membaik," ujarnya.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana spiritual, tetapi juga ruang kebersamaan yang memperkuat hubungan sosial antarwarga panti.
Saat individu merasa tidak sendirian menghadapi masa sulit, proses pemulihan biasanya berlangsung lebih baik. Kehadiran komunitas yang saling mendukung membantu mengurangi tekanan psikologis yang muncul setelah bencana.
Edukasi Kesehatan Ikut Diberikan
Selain pendampingan psikososial, kegiatan juga diisi dengan layanan Promosi Kesehatan bagi seluruh penghuni panti.
Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Anak-anak maupun pengasuh diajak memahami langkah-langkah sederhana untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Penerapan kebiasaan hidup sehat menjadi bagian penting dalam masa pemulihan. Lingkungan yang bersih membantu mengurangi risiko penyakit sekaligus meningkatkan kualitas hidup penghuni panti.
Selain itu, edukasi kesehatan juga menjadi bekal jangka panjang yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Harapan yang Kembali Tumbuh
Ketua Yayasan Sesamamu, Pater Rafael Mesi, SVD, mengingat kembali masa-masa ketika warga panti harus tinggal di tenda setelah bangunan mengalami retak akibat gempa.
Menurutnya, periode tersebut menjadi pengalaman yang tidak mudah bagi seluruh penghuni.
"Awalnya kami merasakan trauma karena bangunan retak, yang mengharuskan kami tidur di tenda selama dua bulan, sejak 18 Agustus sampai 9 Oktober. Kami merasa takut dan trauma karena masih terjadi gempa susulan," ungkap Pater Rafael.
Situasi itu membuat banyak penghuni harus beradaptasi dengan kondisi yang berbeda dari kehidupan mereka sebelumnya.
Namun perlahan keadaan mulai berubah. Berbagai bentuk dukungan yang hadir membantu warga panti membangun kembali optimisme.
Pater Rafael mengaku bersyukur karena penghuni panti akhirnya mendapatkan pendampingan yang secara khusus membantu proses pemulihan psikologis.
"Kami mengucapkan terima kasih yang mendalam yang telah menghadirkan layanan healing therapy dan Promkes di sini. Sejak gempa terjadi, baru kali ini kami mendapatkan kegiatan seperti ini," tuturnya.
Bukan Sekadar Bermain
Kegiatan yang berlangsung di Panti Asuhan Wae Peca memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana tidak selalu hadir dalam bentuk bantuan material.
Terkadang, proses pemulihan dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mendengarkan cerita penyintas, mengajak anak-anak bermain, memberi ruang untuk tertawa, serta membantu mereka merasa aman kembali.
Di Wae Peca, permainan, lagu, dan kebersamaan menjadi sarana yang membantu anak-anak perlahan meninggalkan ketakutan.
Masih ada proses panjang yang harus dijalani. Namun satu hal mulai terlihat jelas: di tengah pengalaman sulit akibat gempa, harapan perlahan tumbuh kembali.
Penulis: Edho
Editor: Redaksi

