Notification

×

Iklan

Iklan

Hasil Tes Darah di Sekolah Mengungkap Fakta Tak Terduga tentang Septiano

Sabtu, 17 Oktober 2026 | Sabtu, Oktober 17, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-10-17T06:27:04Z
 

LINTAS6.com, PASURUAN – Pemeriksaan golongan darah PMI di SMPN 1 Rembang, Kabupaten Pasuruan, menghadirkan manfaat lebih dari sekadar mengetahui jenis darah seseorang. Kegiatan edukasi kesehatan tersebut membuka wawasan para siswa mengenai pentingnya mengenali identitas kesehatan sejak dini.

Remaja berusia 15 tahun itu baru mengetahui bahwa dirinya memiliki  golongan darah B negatif. Hasil tersebut diperolehnya saat mengikuti pemeriksaan golongan darah yang diselenggarakan PMI di lingkungan sekolah.

Bagi Septiano, pemeriksaan tersebut pada awalnya hanya merupakan bagian dari kegiatan sekolah. Namun hasil yang diterimanya membuatnya terkejut karena berbeda dengan mayoritas teman-temannya yang mendapatkan rhesus positif.

“Awalnya kaget, karena yang lain mendapatkan positif (+), sedangkan saya mendapatkan negatif (−),” ujarnya.

Temuan tersebut kemudian memunculkan rasa ingin tahu mengenai karakteristik darah yang dimilikinya. Ia mulai memahami bahwa selain sistem golongan darah ABO, terdapat faktor rhesus yang menentukan apakah seseorang memiliki kategori positif atau negatif.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi kesehatan yang mendorong siswa mengenali kondisi tubuhnya sejak dini.

Dari sisi kesehatan, data golongan darah memiliki manfaat penting. Informasi tersebut dapat membantu pelayanan medis pada kondisi tertentu dan menjadi bagian dari identitas kesehatan pribadi yang perlu diketahui setiap orang.

Melalui kegiatan ini, PMI tidak hanya melakukan pemeriksaan kesehatan, tetapi juga membangun literasi kesehatan di kalangan pelajar. Edukasi semacam ini dinilai penting karena membantu siswa memahami tubuh mereka sendiri sejak usia muda.

Selain menambah wawasan, kegiatan tersebut juga memperkenalkan nilai kemanusiaan. Para siswa diperkenalkan pada pentingnya donor darah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama.

Pengetahuan inilah yang kemudian menginspirasi Septiano. Setelah mengetahui manfaat darah bagi pasien yang membutuhkan transfusi, dirinya mulai memiliki keinginan untuk menjadi pendonor ketika usianya telah memenuhi ketentuan.

“Nanti kalau usia saya sudah memenuhi syarat untuk donor darah, saya mau ikut berdonor darah karena saya bisa membantu orang lain,” katanya.

Pengalaman itu juga menumbuhkan semangat membantu sesama melalui aksi kemanusiaan.

Dalam perspektif pendidikan kesehatan, pengalaman Septiano menunjukkan bahwa satu kegiatan sederhana dapat menghasilkan berbagai manfaat sekaligus. Siswa memperoleh informasi kesehatan, pemahaman ilmiah, dan kesadaran sosial dalam waktu yang bersamaan.

Penulis: Fiyan
Editor: Redaksi

close