HOT NEWS

Sekolah Belum Normal, 30 Murid SLB Ruteng Dapat Tiga Layanan Pemulihan


LINTAS6.com, MANGGARAI – Sekitar 30 dari total 93 murid SLB Tenda Ruteng mendapatkan tiga jenis layanan yang menyentuh kebutuhan kesehatan, pengetahuan perilaku hidup bersih, serta kondisi psikososial setelah gempa. Layanan diberikan pada Jumat, 2 Oktober 2026, saat proses pembelajaran sekolah belum sepenuhnya kembali seperti sebelum bencana.

Para murid yang mengikuti kegiatan berasal dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

Palang Merah Indonesia (PMI) memberikan layanan pemeriksaan kesehatan, Promosi Kesehatan (Promkes), serta Psychosocial Support Service (PSS) atau dukungan psikososial.

Ketiga layanan mempunyai fungsi berbeda bagi anak. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat kondisi kesehatan murid, sedangkan Promkes memperkenalkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), etika batuk dan bersin, serta mencuci tangan dengan benar.

Adapun PSS menjadi ruang bagi murid untuk mengikuti aktivitas kreatif sekaligus mengekspresikan pengalaman dan perasaan mereka setelah menghadapi gempa.

Kegiatan psikososial dikemas dengan aktivitas mewarnai, bernyanyi, dan bergoyang. Guru serta orang tua ikut dilibatkan agar kegiatan berlangsung dengan pendampingan dari orang-orang yang dekat dengan anak.

Koordinator layanan PSS utusan PMI Pusat yang berasal dari PMI Surabaya, Meuti Nadia Soraya Bulan, menjelaskan keterlibatan tersebut.

" PSS tadi kami melibatkan guru dan orang tua murid dalam kegiatan mewarnai dan expresif kreatif berupa bergoyang dan bernyanyi", Ungkap Meuti Nadia Soraya Bulan yang merupakan kordinator layanan PSS utusan PMI Pusat yang berasal dari PMI Surabaya.

Aktivitas mewarnai juga membuka ruang komunikasi antara relawan dan murid. Di sela kegiatan, relawan meminta anak-anak menceritakan pengalaman ketika gempa terjadi.

Dari cerita itu muncul pengalaman yang berbeda-beda.

Beberapa murid mengatakan mereka keluar rumah ketika gempa karena merasa takut. Satu anak memiliki pengalaman berbeda karena sempat kembali masuk ke rumah dengan mengikuti instruksi ibunya.

Seorang murid lainnya mengaku masih merasakan ketakutan apabila gempa kembali terjadi. Untuk menghadapi perasaan tersebut, ia memilih berdoa kepada Tuhan.

Pengalaman para murid tersebut menunjukkan manfaat ruang ekspresi dalam proses pemulihan. Bagi anak, menceritakan pengalaman dapat menjadi kesempatan untuk menyampaikan rasa takut dengan bahasa dan cara yang mereka pahami.

Pendekatan edukasi juga menjadi penting karena mayoritas murid SLB Tenda Ruteng merupakan anak dengan tunagrahita. Dalam pelaksanaan layanan, guru membantu relawan berkomunikasi serta mengondisikan anak-anak.

Pendampingan tersebut menunjukkan bahwa penyampaian pesan kesehatan maupun kebencanaan kepada anak berkebutuhan khusus membutuhkan metode yang tidak selalu sama dengan kelompok masyarakat lainnya.

Pesan perlu dibuat sederhana dan dapat diulang. Metode yang menarik serta aktivitas menyenangkan dapat membantu murid mengikuti proses edukasi.

Simulasi atau edukasi kebencanaan yang dibungkus dalam permainan, misalnya, dapat menjadi sarana untuk mengenalkan tindakan yang perlu dilakukan saat terjadi gempa. Pengulangan juga penting agar pesan semakin dapat dikenali oleh anak.

Di sisi kesehatan, pemeriksaan menyeluruh dalam kegiatan tersebut menemukan keluhan yang perlu menjadi perhatian.

Temuan paling banyak berdasarkan laporan medical check up (MCU) adalah sakit gigi karena gigi berlubang. Selain itu, terdapat laporan sakit kepala dan keluhan pada saluran pencernaan bagian atas.

Relawan pendamping pelayanan kesehatan PMI Kabupaten Manggarai, Hilda P. S Primon, menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut.

" Saat melakukan pemeriksaan menyeluruh temuan yang paling banyak adalah sakit gigi karena berlubang, sakit kepala hingga keluhan pada saluran pencernaan bagian atas", tegas Hilda P. S Primon salah satu relawan pendamping layanan kesehatan PMI Kabupaten Manggarai.

Temuan kesehatan tersebut membuat kegiatan memiliki manfaat lain di luar dukungan psikososial. Anak memperoleh kesempatan untuk menjalani pemeriksaan sekaligus mengikuti edukasi kesehatan.

Dalam sesi Promkes, murid mendapatkan penjelasan mengenai PHBS, cara mencuci tangan yang benar serta etika ketika batuk dan bersin.

Antusiasme anak terlihat ketika penyampaian materi tersebut berlangsung. Mereka memperhatikan relawan saat menjelaskan cara mencuci tangan dan pentingnya kebiasaan hidup bersih.

Kegiatan dilakukan oleh 10 orang, dengan komposisi lima orang dari PMI Pusat dan lima relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai. Pihak sekolah dan orang tua murid turut memberikan dukungan.

Layanan tersebut berlangsung dalam konteks pendidikan yang masih menghadapi keterbatasan pascagempa.

Kerusakan bangunan sekolah menyebabkan murid SLB Tenda Ruteng harus belajar di tenda bantuan. Kapasitas tenda yang terbatas membuat sekolah menerapkan pembagian jadwal.

Sebagian kelas belajar pada Senin hingga Rabu. Kelompok kelas lainnya menjalani pembelajaran pada Kamis hingga Sabtu.

Sistem tersebut memungkinkan kegiatan pendidikan tetap berlangsung, tetapi konsekuensinya anak-anak belum dapat mengikuti aktivitas belajar dan bermain bersama seperti kondisi sebelum bencana.

Walaupun Kabupaten Manggarai telah berada pada fase pemulihan, kondisi pembelajaran SLB Tenda Ruteng dengan demikian belum sepenuhnya normal.

Situasi itu memperlihatkan hubungan antara pendidikan, kesehatan, dan dukungan psikososial dalam pemulihan pascabencana.

Ketika ruang belajar terganggu, kebutuhan anak bukan hanya agar kegiatan akademik tetap berlangsung. Mereka juga perlu memperoleh informasi kesehatan, pendampingan, aktivitas bermain, serta kesempatan untuk menceritakan pengalaman yang menimbulkan ketakutan.

Terlebih bagi anak berkebutuhan khusus, akses informasi harus mempertimbangkan cara mereka menerima dan memahami pesan. Di sinilah guru dan orang tua mempunyai posisi penting sebagai pendamping yang telah mengenal keseharian anak.

Layanan kepada sekitar 30 murid pada 2 Oktober menjadi satu bentuk upaya menjawab beberapa kebutuhan itu secara bersamaan.

Pemeriksaan kesehatan membantu melihat kondisi murid. Promkes memberi pengetahuan praktis mengenai kebersihan dan kesehatan. Sementara PSS menyediakan ruang ekspresi melalui aktivitas yang dekat dengan anak-anak.

Manfaat dari pendekatan tersebut bukan hanya terletak pada banyaknya jenis kegiatan. Hal penting lainnya adalah bagaimana setiap layanan disampaikan agar dapat diikuti anak berkebutuhan khusus.

Pemulihan pendidikan akhirnya tidak hanya berarti membuka kembali kelas. Di SLB Tenda Ruteng, pemulihan juga berarti menjaga kesehatan anak, memberi ruang untuk mengekspresikan rasa takut, menghadirkan aktivitas yang menyenangkan, serta memastikan mereka tetap memperoleh kesempatan belajar meski ruang sekolah masih terbatas.

Penulis: Adho  
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image