181 Siswa dan Guru Didampingi, PMI Ciptakan Ruang Aman Pascagempa
LINTAS6.com, NAGEKEO – Sebanyak 181 siswa dan guru dari dua sekolah di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, mengikuti rangkaian dukungan psikososial PMI Nagekeo pada 2-3 Oktober 2026. Pendampingan dilakukan melalui aktivitas kreatif, ruang berbagi, edukasi perlindungan anak hingga dukungan kebutuhan belajar.
Kegiatan berlangsung secara berturut-turut di SDK Gawalea, Kelurahan Ulupulu, Kecamatan Nangaroro, dan SDN Kaburea.
Dari keseluruhan penerima manfaat, sebanyak 164 merupakan siswa dan 17 lainnya guru.
Pendampingan pertama dilaksanakan di SDK Gawalea pada Jumat (2/10/2026), pukul 09.30 sampai 11.00 WITA.
Sebanyak 93 penerima manfaat mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 86 siswa dan tujuh guru.
Tim Psychosocial Support (PSS) PMI memulai kegiatan melalui aktivitas bernyanyi untuk membangun suasana yang nyaman sebelum siswa mengikuti kelompok sesuai jenjang kelas.
Anak-anak kelas 1 sampai kelas 3 melakukan kegiatan mewarnai. Sementara siswa kelas 4 hingga kelas 6 mendapatkan aktivitas menggambar.
Pembagian tersebut memungkinkan kegiatan disesuaikan dengan usia anak sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk bermain dan berekspresi.
Melalui interaksi selama kegiatan, anak-anak juga memperoleh ruang menceritakan pengalaman dan perasaan yang masih dirasakan setelah gempa.
Sebagian siswa menyampaikan masih merasa takut terhadap kemungkinan adanya gempa susulan.
Tiga siswa dari kelompok kelas bawah diketahui mengalami kerusakan rumah. Kondisi tersebut tidak menghilangkan semangat mereka untuk hadir di sekolah dan mengikuti kegiatan bersama teman-temannya.
Pendampingan di SDK Gawalea juga memasukkan materi perlindungan anak.
Khusus untuk siswa kelas 1 hingga kelas 3, Tim PSS memberikan edukasi safeguarding melalui lagu “Sentuhan Boleh dan Sentuhan Tidak Boleh”.
Pendekatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman dasar mengenai batasan tubuh dan perlindungan diri melalui metode yang lebih mudah diterima anak-anak.
Tidak hanya siswa, tujuh guru di sekolah itu turut memperoleh ruang untuk berbagi pengalaman.
Beberapa guru mengaku masih waspada dan merasa takut ketika mendengar suara keras seperti kendaraan atau truk karena suara tersebut mengingatkan mereka pada pengalaman gempa.
Pihak sekolah menyambut baik kegiatan tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima, layanan dukungan psikososial sebelumnya belum pernah hadir di SDK Gawalea.
Sehari kemudian, Sabtu (3/10/2026), Tim PSS menjalankan kegiatan serupa di SDN Kaburea pada pukul 09.30 hingga 10.30 WITA.
Jumlah penerima manfaat mencapai 88 orang, terdiri atas 78 siswa dan 10 guru.
Komposisi siswa terdiri atas 43 laki-laki dan 35 perempuan. Dari kelompok guru tercatat satu laki-laki serta sembilan perempuan.
Kegiatan dilaksanakan di selasar sekolah dengan pertimbangan sirkulasi udara yang lebih baik.
Siswa kembali diajak bernyanyi sebelum dibagi menjadi kelompok kelas 1-3 dan kelas 4-6.
Siswa kelas bawah melakukan kegiatan mewarnai, sedangkan kelas atas menggambar. Kedua aktivitas menjadi sarana bermain sekaligus memungkinkan anak mengekspresikan kreativitas, ide, imajinasi serta pengalaman.
Relawan berinteraksi dengan anak-anak melalui komunikasi sederhana. Anak dapat bercerita sementara anggota Tim PSS mendampingi dan mendengarkan tanpa menghakimi.
Dari proses tersebut diketahui bahwa sejumlah siswa SDN Kaburea juga masih memiliki ketakutan yang berhubungan dengan pengalaman gempa.
Beberapa anak mengaku bereaksi terhadap suara tertentu yang mengingatkan mereka pada bencana. Mereka terkadang spontan bertanya, “Gempa kah?” ketika mendengar suara yang menimbulkan ingatan tersebut.
Kondisi tempat tinggal menjadi persoalan lain.
Sebagian anak menceritakan bahwa rumah mereka mengalami keretakan. Terdapat pula anak yang rumahnya mengalami kerusakan berat hingga roboh.
Beberapa keluarga menggunakan bagian rumah yang dirasakan lebih aman untuk beristirahat. Bahan kegiatan mencatat adanya keluarga yang tidur di dapur dengan konstruksi bambu.
Kondisi itu memberikan perspektif bahwa kebutuhan anak setelah bencana tidak berhenti ketika mereka kembali datang ke sekolah.
Lingkungan tempat tinggal dan pengalaman yang dialami keluarga turut menjadi bagian dari keseharian anak selama proses pemulihan.
Di SDN Kaburea, dukungan PMI juga menjangkau kebutuhan pendidikan.
Sekolah mempunyai aktivitas tambahan berupa literasi di luar kegiatan belajar mengajar. Tim PSS memberikan buku cerita tambahan untuk mendukung kegiatan tersebut.
Selain itu, setiap siswa memperoleh buku tulis dan pulpen.
Dukungan tersebut memberikan anak sarana untuk terus membaca, belajar, menulis dan menjalani kegiatan kreatif ketika lingkungan mereka masih menyesuaikan diri dengan kondisi pascabencana.
Jika kedua kegiatan dilihat bersama, manfaat pendampingan tidak hanya berupa aktivitas selama satu hingga satu setengah jam.
Anak memperoleh ruang untuk bermain dan mengungkapkan pengalaman. Guru mendapatkan kesempatan bercerita. Siswa kelas bawah di SDK Gawalea mendapat edukasi perlindungan diri, sementara siswa SDN Kaburea memperoleh tambahan dukungan untuk kebutuhan belajar dan literasi.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan Elvana Kusdijanto dari PMI Kabupaten Jember dan Farah Putri A dari PMI Kota Jakarta Timur sebagai Tim PSS PMI Pusat.
Keduanya berkolaborasi dengan Angelina Marici Ema dan Laurentia Brindrisa Mogi dari Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo.
Temuan di dua sekolah juga memberikan pesan kepada keluarga dan lingkungan pendidikan bahwa kembali bersekolah tidak selalu berarti seluruh dampak bencana telah hilang.
Sebagian anak dan guru masih membutuhkan dukungan serta lingkungan yang memahami respons mereka setelah gempa.
Karena itu, menciptakan ruang yang aman, nyaman dan tidak menghakimi menjadi relevan bagi proses pemulihan.
Dari 181 penerima manfaat di dua sekolah, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan, perlindungan anak, aktivitas kreatif dan dukungan psikososial dapat ditempatkan dalam satu rangkaian untuk membantu warga sekolah menjalani kembali aktivitas mereka setelah bencana.