HOT NEWS

Hari Kelima Pelatihan, Relawan Selesaikan Atap dan Sekat Huntara di Manggarai


lintas6.com, MANGGARAI – Peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam upaya penguatan kesiapsiagaan bencana. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui pelatihan pembangunan hunian sementara (huntara) aman gempa yang berlangsung di Desa Robek, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Kegiatan pada Jumat (2/10/2026) tersebut memasuki hari kelima pelaksanaan dan melibatkan 13 relawan dari tiga kabupaten di Nusa Tenggara Timur. Mereka berasal dari Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Timur.

Pelatihan ini menggabungkan pembelajaran teori dengan praktik langsung di lapangan. Para peserta terlibat dalam seluruh tahapan pembangunan huntara mulai dari struktur dasar hingga penyelesaian bangunan.

Pada hari kelima, pekerjaan difokuskan pada pemasangan atap dan pembuatan sekat ruangan. Tahapan tersebut menjadi bagian penting agar peserta memahami proses pembangunan hunian sementara yang aman dan layak digunakan masyarakat pascabencana.

Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, mengatakan bahwa pelatihan ini memberikan pengalaman langsung yang sangat bermanfaat bagi para relawan.

"Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi relawan untuk belajar dan berbagi pengalaman dalam pembuatan hunian yang aman. Keterampilan ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi relawan dalam memberikan pelayanan kemanusiaan ketika terjadi bencana," katanya.

Menurut Kristianus, relawan masa kini membutuhkan keterampilan yang beragam. Selain kemampuan memberikan pertolongan pertama dan distribusi logistik, mereka juga perlu memahami kebutuhan masyarakat pada fase pemulihan pascabencana.

Dalam banyak kasus, masyarakat yang kehilangan rumah membutuhkan hunian sementara yang aman sebelum proses rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan.

Karena itu, kemampuan membangun huntara menjadi salah satu kompetensi yang relevan bagi relawan kemanusiaan.

Pelatihan ini juga menghadirkan ruang kolaborasi antardaerah. Para peserta dapat saling berbagi pengalaman dan belajar dari berbagai praktik yang diterapkan di wilayah masing-masing.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat koordinasi ketika menghadapi bencana pada masa mendatang.

Melalui pendekatan berbasis praktik lapangan, para relawan memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kebutuhan masyarakat serta tantangan yang mungkin dihadapi dalam kondisi darurat.

Kegiatan ini menjadi contoh bahwa pendidikan kebencanaan dapat dilakukan melalui pengalaman langsung sehingga hasil pembelajaran lebih efektif dan aplikatif.

Dengan meningkatnya kapasitas relawan, masyarakat juga akan memperoleh manfaat berupa pelayanan yang lebih cepat, tepat, dan sesuai kebutuhan ketika terjadi bencana.

Penulis: Wemin Wuda
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image