Menguatkan yang Menguatkan: Dukungan bagi Relawan Pascagempa
0 menit baca
LINTAS6.com, MANGGARAI, NTT – Penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur kini memasuki fase krusial dengan menempatkan aspek stabilitas emosional petugas sebagai prioritas utama. Layanan kesehatan jiwa darurat berupa konseling psikososial komprehensif resmi diimplementasikan bagi barisan penggerak kemanusiaan di Kabupaten Manggarai. Langkah intervensi ini diambil guna menekan risiko gangguan kecemasan akut akibat paparan duka krisis yang berlarut-larut, sekaligus memastikan manfaat jangka panjang dari kualitas pelayanan medis dan logistik di lapangan tetap berjalan prima.Data operasional pergerakan tim mencatat program jaminan kesehatan mental ini berlangsung masif selama empat hari berturut-turut, mulai dari 12 Oktober hingga berakhir pada tanggal 15 Oktober 2026. Akurasi data sebaran mencakup empat kluster penolong penting di lapangan. Dimulai dari data rakor penyelarasan strategi bersama pimpinan kesehatan provinsi pada 12 Oktober. Berlanjut pada 13 Oktober dengan menyasar data relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di dua wilayah pedesaan, yakni Desa Para Lando dan Desa Lemarang.Pada 14 Oktober, intervensi difokuskan bagi kluster relawan tim WASH penyuplai air bersih, sebelum akhirnya ditutup pada 15 Oktober 2026 dengan merangkul seluruh personel operasional penanggulangan bencana di Markas Kabupaten Manggarai. Terkait rincian angka, fakta aktual, serta target wilayah penanganan krisis yang berjalan simultan di daratan Nusa Tenggara Timur ini, publik dapat menyimak rangkuman data terperinci yang disajikan dalam data rincian target program pemulihan psikologis sebagai basis informasi utama.Perspektif yang dibangun oleh tim fasilitator menekankan bahwa penolong di lapangan merupakan subjek rentan yang menyerap trauma langsung dari para penyintas krisis. Melalui sudut pandang psikologi kebencanaan, mengabaikan kondisi emosional tim lapangan hanya akan memicu penurunan performa penanganan darurat secara sistemik. Oleh karena itu, penyediaan ruang katarsis emosional diposisikan sebagai pemenuhan hak mendasar bagi para pejuang kemanusiaan agar terhindar dari bahaya sindrom kelelahan mental psikologis.Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., Fasilitator Layanan Kesehatan Psikososial yang juga aktif sebagai dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, menyampaikan bahwa intervensi kelompok ini berfokus pada pemberian teknik manajemen stres taktis serta pemetaan indikator tekanan emosional dalam tim.Noviyanti, Fasilitator Perwakilan Wilayah Jakarta Timur, menegaskan bahwa pemulihan kesehatan jiwa petugas lapangan secara institusional menjadi kunci utama guna menjamin akurasi serta efisiensi distribusi bantuan logistik bagi masyarakat korban bencana.
Manfaat individu dari jalannya program ini adalah pulihnya kestabilan emosi serta meningkatnya rasa percaya diri para relawan dalam menghadapi tekanan krisis lapangan. Secara institusional, manfaat terbesar ditunjukkan dengan adanya perluasan komitmen layanan, di mana sistem jaminan kesehatan mental darurat ini akan segera direplikasi secara meluas di wilayah Kabupaten Manggarai Timur serta Kabupaten Manggarai Barat guna memayungi seluruh jejaring pejuang kemanusiaan di daratan Flores. Penulis: Edho
Editor: Redaksi
