Gempita Tak Datang ke Layanan, Dokter Brenda Justru Menuju Tendanya
LINTAS6.com, NAGEKEO – Gempita Rahayu tidak datang ke lokasi pelayanan kesehatan di Desa Tendakinde, Kabupaten Nagekeo. Tidak ada pula keluhan sakit dari keluarganya. Namun ketika mengetahui bayi itu belum genap berusia dua bulan dan masih tinggal di pengungsian, Dokter Brenda memilih mendatangi Gempita secara langsung.
Brenda Lestari tidak menunggu keluarga membawa bayi tersebut ke tempat pelayanan. Bersama tim kesehatan, dokter dari PMI Kota Bandung itu menuju tenda keluarga Gempita pada Rabu, 30 September 2026.
Gempita lahir pada 17 Agustus 2026. Usianya yang masih sangat dini membuat kondisinya menjadi perhatian, terlebih keluarga masih tinggal di tenda pengungsian.
Brenda menyebut kondisi tenda panas dengan lingkungan sekitar banyak debu.
Keputusan mendatangi Gempita menjadi gambaran pendekatan berbeda dalam pelayanan. Ketika seorang bayi tidak hadir di titik pemeriksaan, tim kesehatan memilih membawa pelayanan lebih dekat kepadanya.
Datang Meski Tak Ada Keluhan Sakit
Kunjungan tersebut bukan respons terhadap kondisi darurat.
Orang tua Gempita tidak melaporkan anak mereka sedang sakit.
Brenda mendatangi tenda untuk memastikan kondisi Gempita selama berada di lingkungan pengungsian.
"Untuk kemarin saat saya dan tim PMI Nagekeo berkunjung dan melakukan pelayanan di desa Tendakinde, kami mendapatkan info ada 1 bayi yang lahir saat gempa kemarin namanya “Gempita”. Kebetulan untuk bayi dan keluarga tidak datang ke posyandu tempat kami pelayanan, jadi kami datang langsung ke tenda pengungsian mereka. Saya dan tim yankes menghampiri untuk memeriksa keadaan bayi, bukan karena ada keluhan dari orangtua, tetapi ingin memeriksa kondisi bayi saat ini. Karena saya pikir untuk kondisinya harus diperhatikan terutama umurnya baru mau menginjak 2 bulan serta bayi dan keluarga masih tinggal di tenda pengungsian yang kondisinya panas dan sekitarnya banyak debu. Saya periksa keseluruhan mulai dari keaktifan bayi dalam menyusu (ASI), apakah bayi saat itu/pernah kuning, untuk frekuensi BAB BAK kemudian melakukan pemeriksaan fisik untuk bagian dada/pernapasan. Alhamdulillah kondisi bayi sangat sehat dan dari anamnesis orangtua pasien tidak pernah sakit, dan untuk sampai umur sekarang pasien dapat imunisasi lengkap sesuai dengan umurnya", tungkas Dokter Brenda.
Brenda memperhatikan keaktifan Gempita dalam menyusu ASI. Informasi mengenai apakah bayi pernah mengalami kondisi kuning juga digali dari keluarga.
Frekuensi buang air besar dan buang air kecil turut menjadi perhatian. Pemeriksaan kemudian dilanjutkan pada kondisi fisik, termasuk bagian dada dan pernapasan.
Dari pemeriksaan tersebut, Brenda menyatakan Gempita dalam kondisi sangat sehat.
Berdasarkan anamnesis terhadap orang tua, bayi itu juga disebut tidak pernah sakit dan telah mendapatkan imunisasi sesuai dengan usianya.
Pelayanan yang Mendekati Kelompok Rentan
Hasil tersebut memberikan ketenangan kepada keluarga Gempita.
Nanang Iswanto, ayah Gempita, mengapresiasi langkah tenaga kesehatan yang memilih datang langsung ke tenda.
“Kami sangat berterima kasih kepada PMI karena sudah datang langsung memeriksa kesehatan warga di tenda pengungsian, terutama anak kami Gempita. Dengan adanya pemeriksaan dari tim kesehatan, kami merasa lebih tenang karena kondisi kesehatan anak kami bisa dipantau,” ujar Nanang.
Pengalaman keluarga Gempita menunjukkan manfaat pelayanan jemput bola ketika masyarakat masih berada dalam situasi pengungsian.
Adanya titik pelayanan kesehatan menjadi penting, tetapi memastikan kelompok rentan benar-benar terjangkau juga menjadi bagian dari pelayanan.
Dalam kasus Gempita, prosesnya bermula dari informasi mengenai keberadaan seorang bayi. Setelah mengetahui bayi itu tidak datang ke tempat pemeriksaan, tim bergerak mendatanginya.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, mengatakan pelayanan kesehatan menjadi perhatian dalam pendampingan terhadap masyarakat terdampak.
“PMI Nagekeo akan terus hadir memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak. Tidak hanya bantuan logistik, tetapi pelayanan kesehatan juga menjadi perhatian kami. Kami ingin memastikan warga yang masih berada di tenda pengungsian mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan, terutama bayi, anak-anak dan kelompok rentan,” kata Kristianus.
Warga lain yang masih berada di tenda darurat Desa Tendakinde juga mendapat pemeriksaan berdasarkan kebutuhan dan keluhan masing-masing.
Kolaborasi PMI Nagekeo dengan tenaga kesehatan PMI dari daerah lain ikut mendukung jangkauan pelayanan tersebut.
Bagi Gempita dan keluarganya, manfaatnya terlihat langsung. Bayi itu tetap terjangkau pelayanan meski tidak hadir di lokasi pemeriksaan.
Tidak ada keadaan darurat yang mengawali pertemuan tersebut. Tidak ada pula keluhan sakit yang disampaikan keluarga.
Ada seorang bayi yang perlu dipastikan kondisinya, dan Dokter Brenda memilih datang.
Dari tenda itu pula diperoleh kabar yang membuat keluarganya lebih tenang: Gempita dalam kondisi sehat.