Dari Mewarnai hingga Edukasi Gempa, Anak di Tiga Desa Terus Didampingi
LINTAS6.com, MANGGARAI – Layanan psikososial anak di Desa Kentol, Desa Para Lando, dan Lemarang mendapat pemantauan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Manggarai pada Senin, 5 Oktober 2026. Monitoring dilakukan untuk memastikan Pojok Ramah Anak tetap menjadi ruang yang mendukung anak-anak terdampak bencana menjalani proses pemulihan.
Pemantauan mencakup kondisi ruang, aktivitas yang dilaksanakan hingga kebutuhan anak yang memanfaatkan layanan tersebut. Relawan sekaligus menggunakan kesempatan itu untuk berinteraksi secara langsung dengan anak dan memperhatikan perkembangan mereka setelah mengikuti rangkaian pendampingan psikososial.
Tiga lokasi tersebut mendapatkan bentuk kegiatan yang beragam. Selain Pojok Ramah Anak, terdapat psikoedukasi mengenai gempa bumi dan kegiatan ekspresif kreatif seperti mewarnai.
Koordinator layanan PSS utusan PMI Pusat yang berasal dari PMI Kota Surabaya, Meutia Nadia Soraya Bulan, menjelaskan rangkaian tersebut.
" Tadi tim melakukan PSS di tiga desa yaitu, Desa Kentol melakukan psiko edukasi tentang gempa bumi dan layanan pojok ramah anak, Desa Para Lando melakukan pojok ramah anak serta di Lemarang kita melakukan expresif dengan mewarnai juga pojok ramah anak", Ungkapnya.
Kegiatan pada setiap daerah memberi gambaran bahwa layanan bagi anak dapat dilaksanakan dengan pendekatan berbeda menurut kebutuhan dan aktivitas yang tersedia. Edukasi kebencanaan memberikan pengetahuan tentang gempa, sementara permainan dan aktivitas kreatif membuka ruang interaksi yang lebih menyenangkan bagi anak.
Pojok Ramah Anak sendiri digunakan sebagai ruang bagi anak untuk bermain, belajar, berkreasi dan bertemu teman sebaya dalam suasana yang lebih aman. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari Psychosocial Support Service (PSS) atau layanan dukungan psikososial PMI.
Manfaat edukasi sebelumnya mulai terlihat di Dusun Wakal, Desa Kentol. Anak-anak mengingat materi perlindungan diri dari gempa melalui lagu yang mereka hafalkan dalam kegiatan sebelumnya. Informasi itu kemudian dapat disampaikan kepada teman mereka di SDI Liang.
Relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai, Lediana jelihat, menuturkan:
"Lewat lagu anak-anak di Dusun Wakal Desa Kentol melakukan penyebaran informasi kepada teman-temannya di SDI Liang tentang cara melindungi diri dari gempa, lagu tersebut mereka hafal saat kami melakukan (psychosocial first aid (PFA) atau pertolongan pertama psikososial pada Minggu lalu", tutur Lediana jelihat relawan pendamping PMI Kabupaten Manggarai.
Cara tersebut mempertemukan aspek pemulihan dengan pendidikan kebencanaan. Anak memperoleh kesempatan beraktivitas bersama sekaligus mengingat informasi mengenai tindakan perlindungan diri. Ketika informasi tersebut dapat mereka bagikan kepada teman, manfaat edukasi tidak berhenti pada peserta kegiatan sebelumnya.
Selain edukasi gempa, aktivitas ekspresif menjadi bagian pendampingan. Anak-anak mendapatkan ruang untuk berkegiatan setelah aktivitas sekolah selesai.
Maranatha N. Sadona mengatakan:
" Di tiga desa tersebut kami melakukan kegiatan expresif kreatif berupa mewarnai dan pojok ramah anak, kegiatannya dilaksanakan setelah prose kegiatan belajar mengajar selesai", jelas Maranatha.
Penjadwalan tersebut memungkinkan kegiatan psikososial berlangsung tanpa melepaskan perhatian terhadap rutinitas pendidikan. Hal itu menjadi relevan karena kondisi pascabencana juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar anak.
Di SDI Lemarang, misalnya, kegiatan belajar mengajar menurut keterangan guru masih berlangsung secara terbatas. Pada saat bersamaan, terdapat perkembangan pada keberanian anak memasuki ruangan.
Velisitas, salah seorang guru di SDI Lemarang, melihat perubahan tersebut setelah anak melalui masa ketika rasa takut masih terasa.
" Awalnya mereka takut, tapi seiring berjalannya waktu sekarang anak-anak rasa takutnya mulai berkurang terlihat dari berani masuk ruangan", Ungkapnya.
Perkembangan itu penting karena pemulihan anak berkaitan erat dengan kemampuan mereka kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Sekolah menjadi salah satu lingkungan utama tempat anak belajar, bertemu teman dan membangun kembali rutinitas.
Velisitas berharap kondisi terus membaik sehingga proses pendidikan dapat berjalan sebagaimana sebelumnya.
" Harapan saya semoga anak-anak sudah terbiasa dan aktivitas KBM kembali normal, karena selama ini KBM hanya 1 jam saja dari hari Senin sampai Kamis", tutup Ibu Velisitas.
Monitoring PMI tidak hanya dimaksudkan untuk melihat apakah kegiatan masih berlangsung. Tim juga mengidentifikasi kebutuhan dan tantangan di setiap tempat. Informasi dari proses tersebut menjadi bahan evaluasi dalam menjaga kesesuaian layanan dengan situasi anak di lapangan.
Bagi masyarakat, keberlanjutan kegiatan tersebut memberikan manfaat berupa tersedianya ruang pendampingan untuk anak sekaligus saluran edukasi mengenai kesiapsiagaan gempa. Anak dapat memperoleh kesempatan melakukan aktivitas sesuai usia dan perlahan membangun kembali rasa aman.
Dukungan psikososial karena itu menjadi bagian yang berjalan bersama tahapan pemulihan kehidupan anak. Kondisi fisik lingkungan dapat berubah setelah bencana, tetapi pemulihan rasa aman membutuhkan proses yang tidak selalu berlangsung dalam waktu singkat.
Monitoring di tiga lokasi memperlihatkan upaya memastikan proses tersebut tetap berlangsung. Dengan evaluasi berkala dan pendampingan yang disesuaikan dengan kondisi lapangan, Pojok Ramah Anak diharapkan terus memberikan manfaat hingga anak mampu menjalani kegiatan belajar serta kehidupan sehari-harinya dengan lebih baik.
Penulis: Edho