Tak Sekadar Pelatihan, 30 Peserta Ini Disiapkan Dampingi Generasi Muda Dua Tahun
LINTAS6.com, KEDIRI – Membentuk generasi muda yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta memahami nilai-nilai kemanusiaan tidak bisa dilakukan hanya melalui teori. Dibutuhkan proses pendampingan yang konsisten, metode pembelajaran yang tepat, dan figur fasilitator yang mampu membangun ruang belajar yang aktif serta partisipatif.
Kebutuhan tersebut menjadi latar belakang pelaksanaan Training of Facilitator (ToF) Pembinaan Palang Merah Remaja (PMR) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Ruang DIKLAT Kota Kediri mulai 21 hingga 25 Oktober 2026.
Sebanyak 30 peserta yang berasal dari unsur relawan Korps Sukarela (KSR) dan pembina PMR mengikuti pelatihan intensif selama lima hari. Selama kegiatan berlangsung, para peserta dipersiapkan untuk menjadi fasilitator pembelajaran PMR yang mampu mendampingi proses pembinaan generasi muda secara lebih terarah, partisipatif, dan berkelanjutan.
Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan peserta. Lebih dari itu, pelatihan dirancang untuk memperkuat kemampuan memfasilitasi, membangun komunikasi efektif, serta mengembangkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan remaja saat ini.
Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, tantangan pembinaan generasi muda juga semakin kompleks. Karena itu, keberadaan fasilitator yang memahami dinamika remaja menjadi salah satu kebutuhan penting dalam proses pendidikan nonformal berbasis kemanusiaan.
Fokus pada Kompetensi Fasilitator
Dalam organisasi kepalangmerahan, fasilitator memiliki peran yang jauh lebih luas daripada sekadar penyampai materi.
Mereka menjadi pendamping, pengarah proses belajar, sekaligus penghubung antara nilai-nilai kemanusiaan dengan praktik kehidupan sehari-hari anggota PMR.
Ketua Bidang Pendidikan dan Latihan, Informasi, Komunikasi Kota Kediri, Wahyu Purnama Wijaya, ST, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembinaan PMR.
"Melalui ToF Pembinaan PMR Tahun 2026, PMI Kota Kediri menargetkan peningkatan kompetensi fasilitator, penguatan pembinaan PMR yang partisipatif dan berkelanjutan, serta penanaman nilai-nilai kemanusiaan bagi generasi muda."
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pelatihan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis peserta, tetapi juga memperkuat fondasi pembinaan PMR dalam jangka panjang.
Fasilitator yang memiliki kompetensi memadai diharapkan mampu menciptakan proses belajar yang menyenangkan, aktif, dan mendorong keterlibatan peserta secara langsung.
Pendekatan seperti ini dinilai lebih efektif dibandingkan metode pembelajaran satu arah yang hanya berpusat pada penyampaian materi.
Menggunakan Pendekatan Experiential Learning
Salah satu hal yang menjadi fokus dalam ToF tahun ini adalah penggunaan metode experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.
Untuk memperkuat kualitas pelatihan, penyelenggara menghadirkan Andris Rufianto Putro, Kepala Bidang Pelayanan PMI Provinsi Jawa Timur, sebagai pelatih utama.
Selama kegiatan berlangsung dari pukul 07.30 hingga 17.00 WIB, peserta tidak hanya mendengarkan materi di dalam kelas. Mereka juga terlibat dalam berbagai aktivitas yang mendorong keterlibatan aktif peserta.
Metode yang digunakan meliputi diskusi kelompok, roleplay, simulasi, hingga berbagai latihan reflektif yang memungkinkan peserta memahami materi melalui pengalaman langsung.
Pendekatan ini dipilih karena diyakini mampu membantu peserta memahami konteks pembelajaran secara lebih mendalam.
Menurut Andris, pembentukan karakter tidak cukup dilakukan melalui penjelasan teoritis semata.
"Pembentukan karakter dan pembelajaran pengalaman nyata yang positif akan mendorong anggota PMR untuk mengaplikasikan bekalnya ke depan. Dengan demikian, nilai kemanusiaan, empati, kerja sama, serta keterampilan tersebut nantinya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kepada teman sebaya."
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tujuan utama pembelajaran bukan sekadar membuat peserta memahami konsep, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Pentingnya Pembelajaran Partisipatif
Perubahan karakter generasi muda saat ini menuntut adanya metode pembinaan yang lebih adaptif.
Anak muda cenderung lebih mudah menerima pembelajaran ketika mereka terlibat secara aktif dalam proses tersebut. Karena itu, pendekatan partisipatif menjadi salah satu strategi yang terus dikembangkan dalam pembinaan PMR.
Melalui metode diskusi, simulasi, dan permainan peran, peserta tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses menemukan solusi, berkomunikasi dengan kelompok, serta mengambil keputusan secara bersama.
Keterampilan-keterampilan tersebut menjadi bekal penting ketika mereka nantinya mendampingi anggota PMR di sekolah maupun komunitas.
Pendekatan partisipatif juga membuka ruang bagi lahirnya kreativitas dan inovasi dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, pembinaan PMR tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, kerja sama, dan empati.
Komitmen Mendampingi Selama Dua Tahun
Salah satu poin penting yang membedakan pelatihan ini dari kegiatan pelatihan biasa adalah adanya komitmen pascapelatihan.
Seluruh peserta ToF menandatangani kesediaan untuk aktif mendampingi kegiatan pembinaan PMR di wilayah Kota Kediri sekurang-kurangnya selama dua tahun setelah pelatihan selesai.
Komitmen ini memberikan nilai tambah yang signifikan bagi keberlangsungan program.
Sering kali sebuah pelatihan menghasilkan peserta yang kompeten, tetapi dampaknya tidak berlanjut karena tidak ada tindak lanjut yang jelas di lapangan.
Dalam program ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga siap menerapkannya melalui pendampingan langsung kepada anggota PMR.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi penguatan organisasi sekaligus memastikan hasil pelatihan benar-benar memberi manfaat nyata bagi pembinaan generasi muda.
Investasi Jangka Panjang untuk Generasi Muda
Pembinaan PMR pada dasarnya merupakan investasi sosial jangka panjang.
Nilai-nilai yang diajarkan kepada anggota PMR hari ini berpotensi membentuk karakter mereka pada masa depan. Nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, empati, disiplin, dan kerja sama merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap sesama.
Karena itu, keberadaan fasilitator yang berkualitas mempunyai peran strategis dalam memastikan proses pembinaan berjalan efektif.
Melalui fasilitator yang terlatih, anggota PMR tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang kepalangmerahan, tetapi juga belajar menjadi individu yang mampu bekerja sama, menghormati perbedaan, serta siap membantu orang lain.
Dampak pembinaan seperti ini mungkin tidak terlihat secara instan. Namun dalam jangka panjang, proses tersebut berkontribusi pada lahirnya generasi muda yang memiliki karakter kuat dan kesadaran sosial yang tinggi.
Membangun Masa Depan Melalui Pembinaan
Pelaksanaan ToF Pembinaan PMR Tahun 2026 menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan proses yang terencana dan berkelanjutan.
Melalui pelatihan selama lima hari, sebanyak 30 peserta dipersiapkan untuk mengambil peran sebagai fasilitator yang akan mendampingi proses belajar anggota PMR di masa mendatang.
Mereka tidak hanya dibekali materi dan keterampilan fasilitasi, tetapi juga diajak memahami pentingnya pengalaman, empati, dan partisipasi dalam proses pembelajaran.
Dengan dukungan metode experiential learning serta komitmen pendampingan dua tahun, program ini diharapkan mampu memperkuat kualitas pembinaan PMR di Kota Kediri.
Pada akhirnya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang mengikuti pelatihan. Keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika para fasilitator tersebut mampu menghadirkan ruang belajar yang mendorong lahirnya generasi muda yang tanggap, peduli, mampu bekerja sama, dan memiliki semangat kemanusiaan yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Deny
Editor: Redaksi
