
LINTAS6.com, MELAWI - Bantuan PMI Karhutla Melawi tidak hanya diwujudkan melalui pendistribusian logistik kepada masyarakat terdampak, tetapi juga melalui dukungan langsung kepada petugas gabungan dan relawan yang setiap hari berada di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Di tengah tantangan medan yang sulit, keterbatasan sarana, serta ancaman paparan asap yang terus berlangsung, dukungan terhadap petugas menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan operasi kemanusiaan.
Komitmen itu ditunjukkan PMI Kabupaten Melawi melalui penyaluran bantuan logistik yang diserahkan secara simbolis oleh Ketua PMI Kabupaten Melawi, Raisya Sarbina Dadi, S.E., M.A.P., kepada Ketua Satgas Posko Karhutla Kabupaten Melawi, Bambang Kisno Wanto, di halaman Kantor BPBD Kabupaten Melawi, Senin sore (31/8/2026).
Bantuan yang disalurkan mencakup 400 kotak nasi, masker N95, susu beruang, sepatu bot, serta sejumlah bantuan logistik lainnya. Seluruh bantuan tersebut diperuntukkan bagi petugas gabungan dan relawan yang masih aktif melakukan penanganan karhutla di berbagai wilayah Kabupaten Melawi.
Penyaluran bantuan tersebut terjadi di tengah situasi karhutla yang masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Data BPBD Kabupaten Melawi mencatat sedikitnya 30 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang Januari hingga Agustus 2026 dengan luas area terdampak antara 1.683 hingga 1.794 hektare.
Lonjakan kebakaran mulai terlihat sejak akhir Juni 2026. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Melawi menetapkan status tanggap darurat melalui SK Bupati Melawi Nomor 300.2/142 Tahun 2026 tanggal 17 Juli 2026.
Status tanggap darurat berlaku sejak 17 Juli hingga 1 Oktober 2026. Seiring masih berlangsungnya ancaman karhutla, pemerintah kemudian memperpanjang status tersebut dalam dua tahap, yakni 2-15 Oktober 2026 dan 16-29 Oktober 2026.
Menurut Raisya Sarbina Dadi, dukungan yang diberikan PMI merupakan bentuk kepedulian kepada petugas dan relawan yang selama ini bekerja tanpa mengenal waktu demi mengendalikan dampak karhutla.
"Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian PMI Kabupaten Melawi kepada petugas gabungan dan relawan yang berada di lapangan. Mereka membutuhkan dukungan, terutama konsumsi dan perlengkapan untuk menunjang pelaksanaan tugas selama penanganan karhutla," ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis pemadaman. Keberhasilan operasi di lapangan sangat dipengaruhi kondisi fisik personel yang menjalankan tugas.
Ketersediaan makanan, alat pelindung diri, dukungan kesehatan, serta perlengkapan dasar lainnya menjadi faktor yang menentukan efektivitas operasional petugas.
Selain mendukung kebutuhan logistik, PMI Kabupaten Melawi juga turut mengambil bagian dalam pelayanan kesehatan selama masa tanggap darurat.
Raisya menjelaskan bahwa saat ini terdapat 58 relawan Satgas Asap Karhutla yang terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan di Kabupaten Melawi.
"Jumlah relawan Satgas Asap Karhutla Kabupaten Melawi yang terlibat saat ini sebanyak 58 orang."
Keberadaan puluhan relawan tersebut membantu memperluas jangkauan pelayanan sekaligus memperkuat koordinasi tanggap darurat di lapangan.
Dari perspektif kesehatan, PMI juga menyoroti pentingnya kesiapan layanan medis. RSUD Kabupaten Melawi diketahui telah membentuk tim khusus untuk menangani korban terdampak karhutla.
"RSUD Kabupaten Melawi sudah membentuk tim khusus untuk penatalaksanaan korban karhutla yang merupakan pasien rujukan dari pelayanan kesehatan sebelumnya. Tim ini sudah dilengkapi tenaga medis dan sarana pendukung lainnya," kata Raisya.
Pembentukan tim khusus menjadi langkah penting karena dampak karhutla tidak hanya berupa gangguan pernapasan ringan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kondisi kesehatan yang memerlukan penanganan lebih serius.
Untuk penanganan luka bakar, petugas menerapkan prinsip 3A yaitu Aman Diri, Aman Pasien, dan Aman Lingkungan sebelum melakukan tindakan lanjutan.
"Penanganan luka bakar di lapangan dilakukan dengan prinsip 3A yaitu Aman Diri, Aman Pasien, dan Aman Lingkungan. Setelah itu dilakukan triase cepat untuk menentukan kebutuhan rujukan pasien," jelasnya.
Selain luka bakar, gangguan pernapasan akibat asap menjadi persoalan yang paling sering diantisipasi selama musim karhutla.
"Untuk gangguan pernapasan akut akibat asap, penanganan dilakukan secara berlapis mulai dari posko, puskesmas hingga dirujuk ke RSUD Melawi apabila diperlukan," tambah Raisya.
Sistem pelayanan berlapis tersebut bertujuan memastikan setiap pasien memperoleh layanan sesuai tingkat kebutuhannya.
Tidak hanya itu, Kabupaten Melawi juga telah mengembangkan fasilitas Rumah Sehat Bebas Asap (RSBA) sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat.
"RSUD Melawi memiliki ruangan bertekanan negatif dan fasilitas Rumah Sehat Bebas Asap yang dilengkapi mesin penghasil oksigen mandiri," ujarnya.
Keberadaan RSBA menjadi salah satu inovasi yang penting ketika kualitas udara mengalami penurunan akibat kabut asap.
Selain RSBA, rumah oksigen juga tersedia di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
"Rumah oksigen tersedia di 11 puskesmas, dua RSUD, satu Posko Satgas Karhutla, dan satu unit ambulans PSC 119."
Dari sisi manfaat, keberadaan fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh akses oksigen lebih cepat saat mengalami keluhan akibat paparan asap.
Sementara itu Ketua Satgas Posko Karhutla Kabupaten Melawi, Bambang Kisno Wanto, menyampaikan apresiasi atas dukungan PMI.
Menurutnya bantuan tersebut akan segera didistribusikan kepada petugas dan relawan yang bertugas di lapangan.
"Dukungan logistik tersebut menjadi bagian dari sinergi berbagai pihak dalam penanganan karhutla di Melawi."
Ia berharap dukungan serupa dapat terus datang dari berbagai unsur masyarakat agar upaya penanganan karhutla semakin kuat.
"Kita berharap, tidak hanya PMI yang dapat memberikan perhatian, organisasi kemasyarakatan dan unsur masyarakat lainnya juga kita harapkan dapat memberikan dukungan."
Di balik seluruh upaya tersebut, tantangan di lapangan masih cukup besar. Keterbatasan sarana, kondisi medan yang berbeda-beda, dan terbatasnya sumber air selama musim kemarau masih menjadi hambatan utama.
"Kendala utama yang dihadapi relawan adalah keterbatasan sarana dan prasarana, kondisi medan kebakaran yang berbeda-beda, serta terbatasnya sumber air saat musim kemarau."
Untuk itu PMI menilai masih diperlukan dukungan tambahan berupa armada transportasi, alat pelindung diri, dan peralatan pemadaman yang memadai.
"Kami juga memerlukan armada transportasi yang sesuai kondisi lapangan, alat pelindung diri bagi relawan, dan sarana pemadaman yang memadai untuk mendukung operasi karhutla."
Data dan perkembangan penanganan karhutla dapat dibaca di Lintas86.com, sementara analisis dampak kesehatan akibat bencana asap dibahas lebih mendalam di Anews.co.
