![]() |
| Kisah Ita dan Bina Relawan Aceh Tamiang saat ikut memberikan pendampingan Psikososial korban bencana di Aceh Tamiang |
Malam itu, hujan deras tak berhenti mengguyur Aceh Tamiang. Dalam waktu singkat, banjir bandang melanda, merendam rumah-rumah dan membawa pergi segala yang ada di dalamnya. Ita dan Bina menjadi bagian dari korban yang paling terdampak. Rumah mereka yang selama ini menjadi tempat berlindung dan berbagi kebahagiaan, hilang tak bersisa. Hanya nyawa yang berhasil diselamatkan.
Pagi hari setelah bencana, yang tersisa hanyalah puing-puing, lumpur, dan perasaan hampa yang sulit diungkapkan. Rasa takut, sedih, dan marah menyelimuti hati mereka, sama seperti ribuan korban lainnya yang kehilangan segalanya.
Namun, di tengah keterpurukan, Ita dan Bina memilih untuk tidak menyerah. Sebagai relawan Palang Merah Indonesia, mereka menyadari bahwa penderitaan mereka bukanlah yang paling utama. Di sekitar mereka, masih banyak lansia yang kehilangan keluarga, anak-anak yang kebingungan, dan ibu-ibu yang berusaha kuat menghadapi ketakutan.
Ita kembali mengenakan rompi PMI dengan tangan yang masih gemetar. Setiap bantuan yang ia berikan, setiap pelukan yang ia sampaikan kepada sesama korban, menjadi cara untuk menenangkan luka dalam dirinya sendiri. Ia hadir di pengungsian, mendengarkan cerita kehilangan yang mirip dengan kisahnya, dan menguatkan mereka dengan kata-kata penuh harapan.
Bina pun memilih langkah serupa. Meski kehilangan tempat tinggal, ia tetap berada di garis depan membantu evakuasi, mendirikan tenda, dan memastikan bantuan sampai kepada yang membutuhkan. Di balik wajahnya yang tenang, tersimpan kelelahan dan kesedihan mendalam, namun ia yakin bahwa selama ia mampu berdiri, masih ada tugas yang harus dilakukan.
"Kalau kita sama-sama jatuh, siapa yang akan menolong?" ujarnya lirih.
Hari demi hari berlalu, luka belum sembuh dan kehilangan belum tergantikan. Namun Ita dan Bina tetap hadir sebagai penguat bagi sesama, meski mereka sendiri masih rapuh. Mereka membuktikan bahwa menjadi relawan bukan berarti kebal terhadap penderitaan, melainkan berani memilih untuk peduli di tengah rasa sakit.
Kisah mereka adalah potret ketangguhan manusia dalam bentuk paling jujur. Kemanusiaan bukan lahir dari kelebihan, tetapi dari empati yang tulus. Harapan bisa tumbuh di atas puing-puing kehidupan yang hancur.
Banjir bandang telah merenggut rumah dan harta benda mereka, namun tidak mampu menghanyutkan keberanian untuk terus membantu dan keyakinan bahwa kebaikan sekecil apa pun dapat menjadi cahaya bagi mereka yang sedang gelap.
Dari Aceh Tamiang, Ita dan Bina mengajarkan kita pelajaran penting: bahkan saat kehilangan segalanya, kita masih bisa menjadi harapan bagi orang lain. Mereka adalah bukti nyata bahwa solidaritas dan kepedulian mampu membangun kembali kehidupan dari reruntuhan.
Penulis: Nur A.
Editor: Redaksi


