Notification

×

Iklan

Iklan

Usir Pikiran Negatif dengan Menulis: Cara Mudah Untuk Anak MI/SD Tetap Ceria

27 November 2025 | November 27, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-27T03:27:59Z
lintas6.com, Ponorogo - Pikiran negatif pada peserta didik MI/SD merupakan fenomena yang tidak dapat diabaikan dalam kajian pendidikan dasar. Pada tahap perkembangan usia 7 sampai 12 tahun, anak berada dalam masa transisi dari ketergantungan emosional menuju pembentukan identitas belajar. Pada kenyataannya, berbagai tekanan akademik dan sosial justru memunculkan kecenderungan anak untuk menginternalisasi penilaian negatif terhadap diri sendiri. Gejala seperti rasa tidak mampu, kecemasan berlebih, dan ketakutan menghadapi penilaian kerap mengganggu proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan, pikiran negatif ini bukan sekadar gangguan emosional, tetapi menjadi faktor penghambat pencapaian tujuan instruksional dan perkembangan karakter peserta didik.

Dalam menjawab permasalahan tersebut, menulis dipandang sebagai strategi pedagogis yang efektif untuk mengurangi pikiran negatif sekaligus mendukung kesejahteraan psikologis dan akademik peserta didik MI/SD. Aktivitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana literasi, tetapi juga sebagai intervensi regulasi emosi yang memungkinkan anak mengekspresikan dan menata perasaannya secara terarah. Menulis dapat membantu peserta didik mengelola kecemasan, meningkatkan fokus, dan menciptakan kondisi belajar yang lebih positif.

Secara teoretis, kegiatan menulis sejalan dengan konsep self-regulated learning dan emotional regulation. Dengan menulis, peserta didik melakukan proses metakognitif yaitu merefleksikan pengalaman, mengenali sumber kecemasan, serta menata pikiran dalam struktur bahasa tertulis. Mekanisme ini mendorong anak untuk tidak bereaksi impulsif terhadap tekanan, tetapi memprosesnya secara lebih rasional. Proses eksternalisasi pikiran melalui tulisan juga mengurangi beban memori kerja, yang menurut teori kognitif berpengaruh pada kemampuan memahami materi pembelajaran. Dengan demikian, menulis bukan hanya aktivitas ekspresif, tetapi juga strategi kognitif yang mendukung kesiapan belajar.

Menulis layak diposisikan sebagai strategi yang relevan bagi konteks MI/SD karena sifatnya yang murah, sederhana, dan mudah diintegrasikan ke dalam pembelajaran. Jika dibandingkan dengan layanan konseling individual atau intervensi psikologis formal yang membutuhkan sumber daya besar, menulis dapat dilakukan oleh semua guru tanpa pelatihan khusus yang berat. Guru cukup menyediakan waktu 5 sampai 10 menit sebelum pembelajaran dimulai untuk kegiatan seperti jurnal pagi atau menulis reflektif dengan tujuan untuk merenungkan, memproses pikiran, dan merencanakan hari yang akan datang. Intervensi sederhana ini terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan akademik dan meningkatkan fokus belajar. Dengan kata lain, menulis merupakan strategi rendah biaya dengan dampak pendidikan yang tinggi.

Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam literasi baca dan tulis sebagaimana tercermin dari capaian siswa Indonesia dalam PISA 2022 yang memperlihatkan beratnya tantangan literasi membaca di Indonesia dan survei lainnya. Menulis sebagai intervensi pengelolaan emosi di tingkat pendidikan dasar mempunyai dua manfaat sekaligus yaitu peningkatan literasi dan perbaikan kesehatan mental. Dengan demikian, menulis memenuhi prinsip program pendidikan, yaitu memberikan dampak multidimensi dalam proses belajar. Pendekatan ini sesuai dengan arah pendidikan modern yang menekankan integrasi antara kompetensi akademik dan kompetensi sosial emosional.
Secara pedagogis, implementasi menulis sebagai strategi pengelolaan pikiran negatif membutuhkan dukungan lingkungan belajar yang kondusif. 

Guru perlu memastikan bahwa kegiatan menulis reflektif tidak dikaitkan dengan penilaian kognitif yang ketat. Hal ini penting untuk menjaga keamanan psikologis anak agar mereka dapat mengekspresikan perasaan secara jujur tanpa takut salah. 

Etika kerahasiaan juga harus dijaga sehingga peserta didik merasa bebas menyampaikan situasi emosionalnya. Kolaborasi antara guru dan orang tua penting agar kegiatan menulis dapat menjadi budaya, bukan sekadar aktivitas sesaat. Dengan penyelarasan ini, menulis mampu menjadi intervensi sosioemosional yang konsisten dan berkelanjutan.

Menulis merupakan strategi ilmiah dan pedagogis yang layak diimplementasikan untuk membantu peserta didik MI/SD mengatasi pikiran negatif dan meningkatkan keceriaan belajar. Aktivitas menulis mendorong peserta didik untuk memahami dirinya, mengelola tekanan, dan mengembangkan resiliensi akademik. Dalam jangka panjang, strategi ini berpotensi menghasilkan peserta didik yang lebih percaya diri, lebih stabil secara emosional, dan lebih siap menghadapi tuntutan belajar di jenjang berikutnya. 

Pendidikan dasar perlu memberikan porsi yang lebih besar untuk kegiatan menulis reflektif dalam kurikulum maupun praktik pembelajaran harian. Menulis tidak hanya membangun kemampuan literasi, tetapi juga mempersiapkan anak menjadi individu yang tangguh secara emosional dan produktif secara akademik. Menulis menjadi intervensi kecil yang berdampak besar bagi perkembangan peserta didik MI/SD.

Penulis: Dr. Lilis Sumaryanti, M.Pd. Dosen Prodi PGMI Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo. 
Editor: Nur A.
close