HOT NEWS

Yuli Arinta: Relawan Bencana Juga Butuh Ruang untuk Didengar



LINTAS6.com, MANGGARAI - Ketika bencana terjadi, perhatian masyarakat biasanya tertuju kepada para penyintas yang kehilangan rumah, pekerjaan, atau anggota keluarga. Bantuan berdatangan, relawan bergerak, dan berbagai organisasi kemanusiaan bekerja untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi.

Namun ada satu kelompok yang sering kali luput dari perhatian, yakni para relawan dan petugas kemanusiaan yang berada di garis depan respons bencana.

Mereka hadir setiap hari untuk membantu orang lain. Mereka mendengarkan cerita kehilangan, menyaksikan kesedihan, menghadapi tekanan pekerjaan, dan tetap dituntut memberikan pelayanan terbaik. Di balik tugas tersebut, mereka juga memiliki keterbatasan sebagai manusia yang dapat mengalami kelelahan fisik maupun emosional.

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi pelaksanaan Layanan Dukungan Psikososial yang digelar PMI Pusat bagi staf dan relawan PMI di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur pascagempa Flores.

Untuk wilayah Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, kegiatan tersebut difasilitasi oleh Yuli Arinta Dewi, S.P., S.Psi., M.Si., Fasilitator Dukungan Kelompok PMI yang juga merupakan relawan PMI Provinsi Jawa Tengah sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang, bersama Noviyanti dari PMI Jakarta Timur.

Kegiatan berlangsung pada 12–24 Oktober 2026 dan menjadi bagian dari upaya PMI menjaga kesejahteraan para penolong kemanusiaan selama menjalankan tugas di wilayah terdampak gempa.

Dukungan Psikososial untuk Mereka yang Melayani

Selama ini dukungan psikososial lebih sering dikaitkan dengan penyintas bencana. Padahal, staf dan relawan yang terlibat dalam operasi kemanusiaan juga berhadapan dengan berbagai tekanan psikologis.

Mereka tidak hanya bekerja dalam waktu yang panjang, tetapi juga menghadapi situasi yang penuh tantangan. Mulai dari keterbatasan sumber daya, koordinasi lapangan, hingga tingginya kebutuhan masyarakat yang harus segera dipenuhi.

Dalam kondisi tersebut, relawan membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, mengevaluasi kondisi diri, dan memperoleh dukungan dari sesama rekan maupun organisasi.

Yuli Arinta menjelaskan bahwa kesehatan mental relawan merupakan bagian penting dari keberhasilan pelayanan kemanusiaan.

“Relawan sering kali lebih fokus membantu orang lain dibanding memperhatikan kondisi dirinya sendiri. Padahal menjaga diri, mengenali kelelahan, dan berbagi pengalaman merupakan bagian penting untuk tetap bisa menjalankan pelayanan kemanusiaan secara berkelanjutan,” ujar Yuli dalam sesi pendampingan.

Menurutnya, relawan tidak harus selalu terlihat kuat setiap saat. Mereka juga membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan tanpa takut dinilai atau dianggap lemah.

Menjangkau Relawan di Tujuh Kabupaten

Program dukungan psikososial PMI Pusat menjangkau tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka.

Khusus di Manggarai Raya, rangkaian kegiatan dimulai pada 12 Oktober 2026 melalui koordinasi dengan Kepala Markas PMI Manggarai dan Koordinator Lapangan PMI Provinsi NTT.

Pada 13 Oktober, sesi dukungan kelompok diberikan kepada relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Desa Lemarang dan Desa Para Lando.

Keesokan harinya, kegiatan dilanjutkan kepada relawan Water, Sanitation and Hygiene (WASH) yang bertugas dalam pelayanan air bersih, sanitasi, dan higiene di Camp WASH PMI Desa Bajak.

Selanjutnya, pada 15 Oktober, sesi diberikan kepada staf dan relawan PMI Kabupaten Manggarai sebelum berlanjut ke Kabupaten Manggarai Timur pada 17 Oktober dan Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026.

Di setiap lokasi, pendekatan yang digunakan tidak berupa ceramah satu arah, melainkan dialog dan dukungan kelompok yang memungkinkan peserta berbagi pengalaman secara sukarela.

Mendengarkan Sebagai Bentuk Dukungan

Dalam berbagai sesi, peserta menceritakan beragam pengalaman selama penugasan.

Ada yang berbicara mengenai kelelahan akibat beban kerja yang tinggi. Ada pula yang menyampaikan tantangan saat menghadapi kebutuhan masyarakat yang terus meningkat sementara sumber daya yang tersedia terbatas.

Situasi semacam itu kerap menimbulkan tekanan yang tidak selalu terlihat dari luar.

Menurut Yuli, salah satu kebutuhan terbesar para relawan justru adalah kesempatan untuk didengarkan.

“Kadang-kadang orang tidak membutuhkan jawaban atau solusi yang rumit. Mereka hanya membutuhkan ruang yang aman untuk bercerita dan mengetahui bahwa apa yang mereka rasakan juga dipahami oleh orang lain,” katanya.

Karena itu, sesi dukungan kelompok dirancang sebagai ruang aman yang bersifat sukarela, saling menghargai, dan tidak memaksa peserta untuk menceritakan pengalaman yang membuat mereka tidak nyaman.

Selain berbagi pengalaman, para relawan juga mendapatkan psikoedukasi mengenai pengelolaan stres, pentingnya istirahat, komunikasi yang mendukung, serta cara membangun dukungan sosial di lingkungan kerja.

Menjaga Ketahanan Relawan

Dalam perspektif kemanusiaan, relawan merupakan aset penting organisasi.

Kemampuan mereka bertahan menghadapi tekanan sangat menentukan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.

Ketika relawan mengalami kelelahan berkepanjangan, dampaknya tidak hanya dirasakan individu yang bersangkutan. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi efektivitas tim dan kualitas respons kemanusiaan secara keseluruhan.

Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental relawan perlu menjadi bagian dari sistem pengelolaan organisasi.

Diskusi yang dilakukan bersama Pengurus PMI Kabupaten Manggarai Barat pada 19 Oktober 2026 juga menunjukkan adanya kesadaran yang semakin kuat mengenai pentingnya dukungan psikososial selama masa tanggap darurat.

Selama ini banyak pendampingan dilakukan setelah operasi selesai. Padahal, pada masa penugasan berlangsung relawan justru menghadapi tekanan paling besar.

Melalui pemantauan dan dukungan sejak awal, kebutuhan relawan dapat diidentifikasi lebih cepat, mulai dari kebutuhan istirahat, penyesuaian beban kerja, hingga dukungan lanjutan apabila diperlukan.

Inspirasi dari Flores

Program yang difasilitasi Yuli Arinta Dewi dan Noviyanti memberikan pelajaran penting bahwa kemanusiaan tidak hanya berbicara tentang membantu masyarakat terdampak bencana.

Kemanusiaan juga berarti menjaga orang-orang yang menjalankan misi pertolongan itu sendiri.

Relawan memang hadir untuk membantu orang lain. Namun mereka tidak harus menanggung seluruh beban sendirian.

Dari berbagai sesi yang berlangsung di Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat, muncul satu pesan yang sederhana tetapi penting: mendengarkan adalah bentuk pertolongan yang sering kali terlupakan.

Dan bagi para relawan yang setiap hari mendengar kesulitan orang lain, kesempatan untuk didengarkan bisa menjadi dukungan yang sangat berarti.

Melalui pendekatan ini, PMI menunjukkan bahwa keberlanjutan pelayanan kemanusiaan tidak hanya dibangun melalui logistik, peralatan, atau sumber daya operasional, tetapi juga melalui perhatian terhadap kesehatan mental para relawan.

Sebab ketika relawan merasa didukung, mereka akan lebih siap untuk terus hadir, bergerak, dan melayani masyarakat yang membutuhkan.

Penulis: Nur A
Editor: Redaksi

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image