Warga Takut Masuk Rumah, Siswa Masih Belajar di Tenda Pascagempa
LINTAS6.com, NAGEKEO – Pemulihan setelah gempa di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya menyangkut bangunan dan kebutuhan fisik masyarakat. Sejumlah warga Kelurahan Dhawe masih takut berada di dalam rumah, sementara siswa SDK Galawea di Kelurahan Ulupulu masih mengikuti kegiatan belajar mengajar di tenda darurat.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari rangkaian dukungan psikososial Nagekeo yang dilakukan Tim Dukungan Psikososial (PSS/PSP) PMI pada 30 September hingga 1 Oktober 2026.
Dua kegiatan berlangsung di lokasi berbeda dengan sasaran berbeda pula. Namun keduanya memberikan gambaran mengenai kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan kembali rasa aman setelah mengalami gempa.
Di RT 003 Kelurahan Dhawe, Kecamatan Aesesa, sebanyak 40 warga mengikuti kegiatan edukasi dukungan psikososial pada Rabu (30/9/2026), pukul 17.00 hingga 18.20 WITA.
Peserta terdiri atas 24 orang dewasa, tujuh lansia dan sembilan anak-anak.
Dalam pertemuan itu, masyarakat diberi kesempatan menceritakan pengalaman serta perasaan setelah gempa. Sejumlah warga menangis ketika mengingat kembali kejadian yang mereka alami.
Sebagian mengaku masih takut terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Perasaan belum aman juga membuat sejumlah warga ragu berada di dalam rumah dan menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya.
Ada warga yang baru beberapa kali kembali masuk ke rumah. Mereka masuk untuk mengambil pakaian atau kebutuhan penting sebelum kembali keluar.
Melalui edukasi yang diberikan, warga memperoleh penjelasan bahwa takut, cemas, panik, sulit merasa aman dan terus mengingat kejadian dapat muncul setelah seseorang menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan.
“Rasa takut setelah bencana merupakan hal yang dapat terjadi. Yang penting adalah tidak menghadapinya sendirian,” menjadi salah satu penguatan kepada masyarakat.
Tim kemudian mengajak warga mempraktikkan beberapa teknik sederhana ketika menghadapi ketakutan dan kecemasan.
Peserta melakukan latihan pernapasan untuk membantu menenangkan diri. Mereka juga diperkenalkan dengan butterfly hug, yakni teknik memberikan pelukan kepada diri sendiri secara bergantian.
Manfaat kegiatan tidak berhenti pada teknik individual. Tim juga mendorong warga berbicara dengan orang yang dipercaya serta saling membantu ketika ketakutan muncul.
Dukungan keluarga dan lingkungan dapat dilakukan dengan mendengarkan, membantu memberikan rasa aman serta tidak menghakimi orang yang masih mengalami ketakutan setelah bencana.
Sehari kemudian, perhatian beralih ke lingkungan pendidikan.
Tim PSS PMI melakukan asesmen di SDK Galawea, Kelurahan Ulupulu, Kecamatan Nangaroro, pada Kamis (1/10/2026), mulai pukul 08.15 sampai 10.00 WITA.
Hampir sebulan setelah gempa, kegiatan belajar mengajar belum sepenuhnya kembali berlangsung di dalam bangunan sekolah. Siswa masih belajar menggunakan tenda darurat.
Bangunan sekolah belum digunakan sepenuhnya karena terdapat keretakan pada bagian sudut bangunan. Kondisi itu membuat warga sekolah khawatir mengenai keamanan bangunan apabila gempa kembali terjadi.
Dalam asesmen tersebut, Tim PSS berbicara dengan guru dan kepala sekolah mengenai situasi warga sekolah ketika serta setelah gempa.
Tim juga menghimpun informasi mengenai jumlah siswa dan tenaga sekolah, bantuan yang telah diterima, serta dukungan berbagai pihak. Pengamatan langsung dilakukan terhadap kondisi sekolah darurat dan kegiatan pembelajaran.
Dari asesmen diketahui bahwa SDK Galawea belum pernah mendapatkan kegiatan khusus berupa dukungan psikososial.
Bantuan yang sebelumnya diterima sekolah berupa sembako dari sejumlah partai dan organisasi. Tenda untuk mendukung aktivitas belajar mengajar berasal dari BNPB dan bantuan alumni.
Kondisi rumah siswa turut menjadi perhatian. Sebagian besar siswa dilaporkan mengalami keretakan pada rumah mereka. Bahkan, terdapat satu siswa yang kondisi rumahnya dinilai sudah tidak layak huni.
Di tengah perubahan lingkungan tersebut, sejumlah siswa masih merasakan takut, cemas dan khawatir apabila gempa kembali terjadi. Beberapa siswa juga belum kembali bersekolah.
Calon penerima manfaat yang terdata di SDK Galawea terdiri atas 86 siswa serta 13 orang dari unsur guru, kepala sekolah dan petugas keamanan. Sebanyak lima orang mengikuti proses asesmen secara langsung.
Hasil asesmen menunjukkan kebutuhan pendampingan psikososial berkelanjutan bagi siswa dan warga sekolah. Pendampingan diharapkan membantu anak-anak memahami respons emosional setelah bencana, membangun kembali rasa aman, serta mendukung proses pemulihan mereka.
Kondisi di Dhawe dan SDK Galawea memberi perspektif lebih luas mengenai kebutuhan masyarakat setelah bencana.
Tersedianya tempat belajar sementara memungkinkan kegiatan pendidikan tetap berjalan. Namun, rasa takut yang masih dirasakan siswa merupakan kondisi lain yang juga perlu diperhatikan.
Hal serupa terlihat di lingkungan permukiman. Rumah tetap menjadi pusat aktivitas keluarga, tetapi bagi sebagian warga Dhawe, kembali memasuki rumah masih menjadi sesuatu yang menimbulkan ketakutan.
Karena itu, dukungan psikososial mempunyai relevansi langsung dengan aktivitas masyarakat. Tujuannya bukan sekadar memberikan pengetahuan, tetapi juga mendukung masyarakat agar memahami perasaan yang mereka alami serta mengetahui dukungan yang dapat dicari di lingkungan terdekat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo bersama Tim PSS PMI Pusat.
Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo terdiri atas Angelina Marici Ema dan Laurentia Brindrisa Mogi. Tim pusat melibatkan Elvana dari PMI Kabupaten Jember dan Farah Putri A dari PMI Kota Jakarta Timur.
Dari dua kegiatan tersebut terlihat bahwa proses pemulihan membutuhkan keterlibatan masyarakat. Orang yang dipercaya, keluarga dan lingkungan sekitar dapat mengambil peran dengan mendengarkan tanpa menghakimi serta membantu seseorang memperoleh kembali rasa aman secara bertahap.
Bagi warga Dhawe dan siswa SDK Galawea, gempa mungkin telah berlalu. Namun perjalanan untuk kembali merasa aman masih berlangsung di rumah, sekolah dan lingkungan tempat mereka menjalani aktivitas setiap hari.
