29 Warga Danga Belajar Kelola Kecemasan dan Siapkan Tas Siaga
LINTAS6.com, NAGEKEO – Sebanyak 29 warga RT 030, Kelurahan Danga, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, mengikuti kegiatan psikoedukasi dan kesiapsiagaan bencana warga Danga yang diberikan Palang Merah Indonesia (PMI), Minggu (4/10/2026).
Kegiatan melalui Tim Psychosocial Support (PSS) itu menggabungkan dukungan bagi warga yang masih menghadapi rasa takut setelah gempa dengan pengetahuan praktis mengenai kesiapan keluarga menghadapi kondisi darurat.
Pelayanan berlangsung pukul 16.00 hingga 18.20 WITA.
Sebanyak 28 peserta merupakan orang dewasa dan satu peserta lainnya lansia.
Dalam sesi awal, masyarakat mendapatkan ruang untuk menyampaikan pengalaman serta perasaan setelah gempa.
Sejumlah peserta mengatakan masih merasakan takut dan cemas ketika memikirkan kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Beberapa ibu bahkan mengaku belum berani kembali masuk ke dalam rumah karena masih mempunyai kekhawatiran terhadap keamanan bangunan.
Ketika pengalaman saat gempa kembali dibicarakan, beberapa warga menunjukkan respons emosional hingga menangis.
Tim PSS kemudian memberikan psikoedukasi untuk membantu peserta memahami respons yang dapat muncul setelah seseorang mengalami peristiwa bencana.
Beberapa respons yang dibahas mencakup rasa takut, cemas dan sedih.
Warga juga memperoleh pemahaman mengenai cara sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengelola kecemasan.
Selain kemampuan individu memahami kondisi yang sedang dirasakan, dukungan dari orang-orang terdekat mendapatkan perhatian dalam kegiatan tersebut.
Tim mendorong masyarakat untuk saling memberikan dukungan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Manfaat pendekatan ini terletak pada tersedianya lingkungan tempat seseorang dapat menyampaikan pengalaman tanpa harus memendamnya sendiri.
Setelah sesi psikoedukasi, kegiatan dilanjutkan dengan tema yang mempunyai manfaat praktis bagi keluarga, yakni kesiapsiagaan bencana.
Tim memberikan edukasi mengenai tas siaga dan menjelaskan manfaat mempersiapkannya sebelum menghadapi kondisi darurat.
Tas siaga dapat digunakan untuk menyimpan sejumlah kebutuhan yang penting dan mudah diakses ketika terjadi keadaan darurat atau kemungkinan gempa susulan.
Peserta mendapatkan penjelasan mengenai sejumlah barang yang dapat dipersiapkan.
Dokumen penting menjadi salah satu kebutuhan yang perlu mendapat perhatian. Selain itu, warga disarankan mempersiapkan obat-obatan, air minum, makanan ringan, pakaian dan senter.
Persiapan juga perlu memperhitungkan kebutuhan khusus anggota keluarga.
Poin terakhir tersebut mempunyai relevansi karena setiap keluarga memiliki komposisi dan kebutuhan berbeda.
Keluarga yang mempunyai anggota dengan kebutuhan tertentu perlu menyesuaikan isi tas siaga sehingga persiapan yang dilakukan benar-benar dapat digunakan ketika dibutuhkan.
Edukasi tersebut memberi masyarakat langkah yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu kondisi darurat terjadi.
Warga dapat mulai mengidentifikasi barang penting, memastikan dokumen mudah dijangkau, menyesuaikan kebutuhan obat serta menentukan keperluan anggota keluarga yang perlu disiapkan.
Dengan demikian, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi informasi mengenai bencana, tetapi diterjemahkan menjadi persiapan praktis di tingkat rumah tangga.
Kegiatan di Danga juga memberikan gambaran bahwa dukungan pascabencana dan kesiapsiagaan mempunyai hubungan yang erat.
Sebagian masyarakat masih menjalani proses untuk kembali merasa aman setelah gempa. Pada saat yang sama, mempersiapkan keluarga menghadapi keadaan darurat dapat memberikan pemahaman mengenai tindakan yang dapat dilakukan sejak dini.
Bagi masyarakat, manfaat kegiatan tersebut setidaknya mencakup dua hal.
Pertama, warga mendapatkan kesempatan memahami dan menyampaikan respons emosional yang masih muncul setelah bencana.
Kedua, peserta mendapatkan pengetahuan mengenai persiapan kebutuhan keluarga jika harus menghadapi situasi darurat.
Kedua pendekatan sama-sama menempatkan masyarakat sebagai bagian aktif dalam proses pemulihan dan penguatan kesiapsiagaan.
Dukungan yang berasal dari lingkungan juga tidak memerlukan langkah yang rumit.
Mendengarkan anggota keluarga yang masih merasa takut, memberi kesempatan untuk berbicara dan tidak menghakimi perasaannya merupakan bagian dari dukungan yang dapat hadir sehari-hari.
Sementara pada aspek kesiapsiagaan, keluarga dapat mulai mendiskusikan kebutuhan apa saja yang harus diprioritaskan dan dipersiapkan.
Kegiatan dilakukan melalui kolaborasi Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo dan Tim PSS PMI Pusat.
Angelina Marici Ema serta Laurentia Brindrisa Mogi menjadi bagian Tim PSS PMI Kabupaten Nagekeo.
Sementara Tim PSS PMI Pusat melibatkan Elvana dari PMI Kabupaten Jember dan Farah Putri A dari PMI Kota Jakarta Timur.
Pelayanan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap masyarakat terdampak gempa yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
Bagi warga Danga, kegiatan tidak hanya memberikan pengetahuan mengenai apa yang dapat dirasakan seseorang setelah bencana.
Pertemuan tersebut juga membawa pembahasan menuju pertanyaan yang lebih praktis: apa yang dapat dilakukan keluarga untuk lebih siap?
Dari dokumen hingga obat, dari air minum hingga kebutuhan khusus anggota keluarga, persiapan sederhana dapat mulai dilakukan sebelum keadaan darurat datang.
Dengan menggabungkan psikoedukasi dan kesiapsiagaan, masyarakat mendapatkan dukungan untuk menghadapi dua sisi pascabencana: memahami perasaan akibat peristiwa yang telah dialami dan meningkatkan kemampuan mempersiapkan diri menghadapi kondisi darurat.