lintas6.com, Tapanuli Tengah – Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Sumatera Utara bergerak cepat memberikan layanan pasca bencana bagi warga terdampak banjir di posko pengungsian Aek Horsik, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, pada Minggu (11/1).
Sebanyak 20 personel gabungan yang terdiri dari relawan, dokter, dan tenaga ahli lainnya dikerahkan untuk melaksanakan pelayanan kemanusiaan ini. Menghormati kearifan lokal, pelayanan dimulai pada siang hari agar masyarakat dapat menyelesaikan ibadah Minggu terlebih dahulu.
PMI Sumut memfokuskan layanan pada pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Sebanyak 200 penerima manfaat mendapatkan layanan kesehatan gratis, dengan keluhan utama berupa gejala flu, batuk, dan gatal-gatal akibat paparan air banjir.
Selain pengobatan, PMI juga menyalurkan bantuan logistik berupa paket sembako, air mineral, biskuit, serta perlengkapan sanitasi seperti hygiene kit, sapu lidi, dan alat kebersihan lainnya untuk menjaga kebersihan area pengungsian.
Tidak hanya aspek fisik, PMI juga mengedepankan pencegahan melalui Promosi Kesehatan (Promkes). Warga diberikan edukasi tentang cara merawat luka pasca bencana dan menjaga kesehatan reproduksi. PMI juga mengampanyekan pencegahan tindak eksploitasi, penyalahgunaan, dan pelecehan seksual dengan membekali masyarakat pengetahuan langkah darurat dan kontak pengaduan.
Untuk anak-anak di pengungsian, PMI menghadirkan layanan Dukungan Psikososial (PSS) dengan mengajak mereka bermain, bernyanyi, dan mewarnai. Aktivitas ini membantu anak-anak mengekspresikan perasaan dan memulihkan trauma akibat bencana.
Koordinator Lapangan PMI Sumut, Ade Yudiansyah, MH., menegaskan bahwa kehadiran PMI bertujuan menyisir kebutuhan dasar paling krusial bagi penyintas.
Respons positif datang dari warga pengungsian. Eka Harefa, salah satu penyintas, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian para relawan.
Kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan masyarakat di Kecamatan Badiri agar mereka dapat segera kembali beraktivitas normal setelah masa tanggap darurat berakhir.
Sebanyak 20 personel gabungan yang terdiri dari relawan, dokter, dan tenaga ahli lainnya dikerahkan untuk melaksanakan pelayanan kemanusiaan ini. Menghormati kearifan lokal, pelayanan dimulai pada siang hari agar masyarakat dapat menyelesaikan ibadah Minggu terlebih dahulu.
PMI Sumut memfokuskan layanan pada pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi. Sebanyak 200 penerima manfaat mendapatkan layanan kesehatan gratis, dengan keluhan utama berupa gejala flu, batuk, dan gatal-gatal akibat paparan air banjir.
Selain pengobatan, PMI juga menyalurkan bantuan logistik berupa paket sembako, air mineral, biskuit, serta perlengkapan sanitasi seperti hygiene kit, sapu lidi, dan alat kebersihan lainnya untuk menjaga kebersihan area pengungsian.
Tidak hanya aspek fisik, PMI juga mengedepankan pencegahan melalui Promosi Kesehatan (Promkes). Warga diberikan edukasi tentang cara merawat luka pasca bencana dan menjaga kesehatan reproduksi. PMI juga mengampanyekan pencegahan tindak eksploitasi, penyalahgunaan, dan pelecehan seksual dengan membekali masyarakat pengetahuan langkah darurat dan kontak pengaduan.
Untuk anak-anak di pengungsian, PMI menghadirkan layanan Dukungan Psikososial (PSS) dengan mengajak mereka bermain, bernyanyi, dan mewarnai. Aktivitas ini membantu anak-anak mengekspresikan perasaan dan memulihkan trauma akibat bencana.
Koordinator Lapangan PMI Sumut, Ade Yudiansyah, MH., menegaskan bahwa kehadiran PMI bertujuan menyisir kebutuhan dasar paling krusial bagi penyintas.
"Giat ini kami laksanakan sebagai bentuk komitmen PMI dalam memberikan pelayanan yang menyeluruh, baik dari sisi kesehatan fisik maupun mental. Kami memastikan bahwa distribusi bantuan dan layanan medis menyasar warga yang benar-benar membutuhkan, dengan tetap menghormati waktu ibadah masyarakat setempat," ujar Ade.
Respons positif datang dari warga pengungsian. Eka Harefa, salah satu penyintas, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian para relawan.
"Kami sangat bersyukur dan merasa terbantu dengan adanya pengobatan gratis ini, apalagi anak-anak mulai banyak yang sakit setelah banjir. Bantuan alat kebersihan juga sangat berguna bagi kami untuk mulai berbenah," ungkapnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan masyarakat di Kecamatan Badiri agar mereka dapat segera kembali beraktivitas normal setelah masa tanggap darurat berakhir.
Penulis: Nur A.
Editor: Redaksi


