Krisis Air Bersih Pasca Banjir Padang, PMI Tingkatkan Distribusi
0 menit baca
lintas6.com, Padang - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kota Padang baru-baru ini menyisakan tantangan serius bagi warga setempat. Dengan dampak kerusakan yang belum sepenuhnya teratasi, masyarakat Padang kini harus menghadapi masalah krisis air bersih.
Salah satu warga terdampak, Mairani, dari Pila Tarok, Kec. Kuranji, mengemukakan bahwa sumber air bersih di wilayahnya mengalami kerusakan parah.
"Semua kering, sumur kami sedalam 8 meter pun sekarang kering. Jadi untuk mandi, cuci baju, bersih-bersih lainnya kami susah," keluh Mairani, ketika ditemui saat distribusi air bersih oleh Palang Merah Indonesia (PMI) pada Jumat, 17 Januari.
Sebelum kehadiran bantuan air bersih, solusi sementara yang diandalkan masyarakat adalah memanfaatkan air hujan.
Mairani menjelaskan bagaimana warga membuat saluran dan tampungan untuk mengoleksi air hujan yang kemudian digunakan bersama-sama.
"Kami buat saluran dan tampungan air hujannya. Lalu kami manfaatkan bersama-sama untuk mencuci dan lainnya," terangnya.
Menghadapi peningkatan permintaan air bersih dari warga yang terdampak, PMI Provinsi Sumatera Barat mengerahkan seluruh armada truk tangki air bersihnya.
Dengan intensitas distribusi yang meningkat, Rizki, salah satu petugas distribusi, menyatakan bahwa mereka harus mendistribusikan air ke tiga hingga enam titik lokasi setiap hari.
"Beberapa hari ini, kami mendistribusikan air ke 3 sampai 6 titik lokasi dalam sehari," ujarnya.
Berbeda dari hari-hari biasanya, rute distribusi kali ini mengalami peningkatan dua kali lipat, dan tim dituntut untuk menjangkau lebih banyak titik lokasi.
Komitmen PMI untuk terus mendukung kebutuhan dasar masyarakat ini diperjelas oleh Pimpinan Operasi Tim Distribusi Bantuan (TDB) PMI, Hidayatul Irwan.
"Distribusi air bersih ini merupakan bentuk kepedulian dan komitmen PMI untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak dapat terpenuhi dengan baik," ujar Hidayat.
Tim distribusi air bersih PMI akan terus berupaya memberikan pelayanan terbaik guna memastikan setiap warga mendapatkan akses air bersih.
"Jika ada masyarakat yang masih belum mendapatkan bantuan distribusi air bersih, silahkan laporkan ke PMI setempat," tegasnya.
Krisis air bersih yang terjadi setelah bencana menggambarkan rentannya infrastruktur dasar terhadap gejala alam ekstrim. Ini merupakan tantangan bagi masyarakat dan pemerintahan setempat untuk mengembangkan strategi pemulihan dan pembangunan ketahanan yang lebih efisien. Solusi jangka pendek seperti distribusi air bersih sangat diperlukan, namun demikian, untuk jangka panjang diperlukan upaya yang sistematis guna memperbaiki dan memperkuat infrastruktur air bersih di daerah yang rawan bencana.
Sebagai penutup, upaya kolaboratif antara pihak-pihak terkait termasuk pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat sipil sangat penting untuk memastikan kelangsungan pemulihan, perbaikan infrastruktur, dan penguatan ketahanan masyarakat dalam menghadapi bencana di masa mendatang. Keterlibatan aktif dari berbagai pihak dan sinergi yang kuat akan menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi krisis yang melanda dan memastikan kehidupan masyarakat yang lebih baik dan berkelanjutan pasca bencana.
Penulis: Nur A.
Editor: Redaksi
