Dalam bencana yang melanda kampungnya, Nenek Netti kehilangan 15 anggota keluarganya. Rumah-rumah mereka hancur, sawah dan ladang yang menjadi sumber penghidupan musnah tak bersisa. Kehilangan yang dialami bukan sekadar materi, tapi juga masa depan yang tiba-tiba terhenti.
“Masih takut,” ujar Nenek Netti dengan suara pelan saat menceritakan pengalamannya. Sejak bencana itu, menyeberangi sungai bukan lagi soal jarak, melainkan keberanian. Trauma yang mendalam membuat langkahnya terhenti, bahkan hingga kini ia belum berani menemui saudara-saudaranya yang selamat. Bukan karena tidak ingin, melainkan hatinya belum sepenuhnya kuat.
Namun beberapa hari terakhir, Nenek Netti mulai menunjukkan keberanian baru. Untuk pertama kalinya setelah bencana, ia menyeberangi sungai itu kembali. Langkahnya pelan dan ragu, tapi ada tekad kecil yang tumbuh di dalam dirinya. Ia bercerita sambil tersenyum, senyum yang tegar meski ketakutan masih tersembunyi di baliknya.
Di tengah masa pemulihan yang panjang dan penuh tantangan ini, Palang Merah Indonesia (PMI) hadir sebagai teman setia para penyintas. Sejak masa tanggap darurat, relawan PMI turun langsung ke lapangan memberikan pertolongan pertama, bantuan kebutuhan dasar, serta melakukan pendataan dan asesmen kebutuhan warga terdampak.
Namun bagi penyintas seperti Nenek Netti, kehadiran PMI tidak berhenti di hari-hari awal bencana. Relawan duduk bersama warga, mendengarkan cerita yang sering terulang, dan mendampingi trauma yang tidak selalu tampak. Melalui layanan dukungan psikososial, PMI membantu penyintas memulihkan kepercayaan diri, memperkuat hubungan sosial, dan perlahan menata harapan baru untuk melanjutkan hidup.
“Yang dibutuhkan para penyintas bukan hanya bantuan hari ini, tetapi juga pendampingan agar mereka bisa bangkit dan memulai kembali,” ujar salah satu relawan PMI di lokasi. Menurut PMI, pemulihan adalah proses panjang yang membutuhkan kehadiran dan kesabaran.
Bagi Nenek Netti, masa depan masih penuh ketidakpastian. Sawah dan ladangnya belum bisa ditanami kembali. Ia masih belajar berdamai dengan kehilangan yang dalam. Namun langkah kecilnya menyeberangi sungai menjadi simbol harapan—bahwa meski rapuh, harapan itu masih ada.
PMI berkomitmen untuk terus menemani para penyintas dalam perjalanan panjang ini. Tidak hanya agar mereka selamat dari bencana, tetapi juga agar mampu melanjutkan hidup dengan martabat dan harapan. Karena di balik setiap senyum yang tampak kuat, ada kisah perjuangan dan proses panjang yang layak untuk didampingi.
Cerita Nenek Netti adalah pengingat bahwa dalam setiap bencana, selain bantuan fisik, kehadiran dan pendampingan emosional sangat penting untuk pemulihan sejati.
Penulis: Haafid
Editor: Redaksi

