Dedikasi Suhadi Prayitno dalam Bantu Korban Bencana Sumatera - Aceh

Suhadi Prayitno bersama PIC PMI Jatim, Ahmad Rifai dan Cucu Ketua Umum PMI Jusuf Kalla


lintas6.com, Surabaya – Dalam menghadapi bencana banjir yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh pada November 2025, sosok Suhadi Prayitno muncul sebagai koordinator tim yang penuh dedikasi dan bijak dalam mengambil keputusan selama penugasan satu bulan, dari 3 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026.

Sebagai bagian dari tim PMI Kota Surabaya, Suhadi menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjalankan tugas kemanusiaan di tengah situasi yang penuh tantangan.

"Saya sebagai koordinator tim harus bijak mengambil keputusan. Makanya saya undur diri untuk sementara sambil menunggu kejelasan lebih lanjut," ungkap Suhadi Prayitno saat ditemui selama penugasan. Pernyataan ini mencerminkan sikap tanggung jawab yang dipegang teguh demi kelancaran dan keberhasilan misi kemanusiaan.

Selama masa penugasan, tim Jawa Timur yang dipimpin Suhadi bekerja dengan sangat baik.

"Alhamdulillah selama penugasan, tim Jatim bekerja dengan baik, dan mereka salut sama kita khususnya kepada tim Jatim," tambahnya. Kejujuran dan keikhlasan menjadi nilai utama yang ditanamkan Suhadi kepada seluruh anggota timnya.

"Yang saya tanamkan ke teman-teman Jatim cuma satu, kejujuran dan keikhlasan dalam menjalankan tugas," tegasnya.

Namun, perjalanan penugasan tidak tanpa kendala. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah terkait pendamping lokal yang menjadi bagian penting dalam koordinasi lapangan.

"Untuk kendala banyak yang kita rangkum selama penugasan, contoh kecil soal pendamping lokal," ujar Suhadi. 

Meski demikian, tim Jatim tetap berjalan mandiri dengan cara yang sporadis, menunjukkan fleksibilitas dan keberanian dalam menghadapi situasi yang dinamis.

"Kita tim Jatim jalan mandiri dengan sporadis. Dengan kesporadisan itu, tim Jatim berani mengambil sikap untuk mengintervensi sehingga hasilnya sangat menakjubkan," jelas Suhadi. 

Hal ini menunjukkan bagaimana tim mampu beradaptasi dan mengambil langkah strategis meskipun dengan keterbatasan armada dan sumber daya.

Suhadi juga menyoroti tantangan geografis yang harus dihadapi, di mana satu kecamatan bisa terdiri dari 36 desa.

"Satu kecamatan 36 desa, mau tidak mau ya harus kita jalankan dengan keterbatasan armada," katanya. 
Kondisi ini menuntut kerja keras dan manajemen yang efektif agar bantuan dapat tersalurkan dengan baik ke seluruh wilayah terdampak.

Mengenai kesan selama penugasan di banjir Aceh, Suhadi menilai hubungan antar anggota tim sangat harmonis.

"Saya rasa kesan selama penugasan di banjir Aceh satu sama lain sama saja, tinggal bagaimana kita menyikapi secara pribadi," pungkasnya.

Dedikasi dan semangat Suhadi Prayitno dalam merespon bencana di Sumatera dan Aceh menjadi contoh nyata komitmen kemanusiaan yang patut diapresiasi. Kejujuran, keikhlasan, dan keberanian mengambil keputusan menjadi kunci keberhasilan tim dalam menghadapi tantangan berat di lapangan. 

Semoga semangat ini terus menginspirasi dan menjadi teladan bagi semua pihak yang terlibat dalam misi kemanusiaan di masa depan.

Penulis: Nur A. 
Editor: Redaksi
Baca Juga
Lebih baru Lebih lama

Template Code (Do not disable)

close