Kisah Agus Hariadi, seorang relawan Palang Merah Indonesia (PMI) dari Kabupaten Blitar, adalah bukti nyata dari semangat kemanusiaan yang luar biasa.
Agus rela mengorbankan segala hal yang dimilikinya untuk terlibat dalam Misi Kemanusiaan Penanggulangan Banjir di Sumatra, khususnya di Provinsi Aceh.
Agus rela mengorbankan segala hal yang dimilikinya untuk terlibat dalam Misi Kemanusiaan Penanggulangan Banjir di Sumatra, khususnya di Provinsi Aceh.
Kisah perjuangannya tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya kontribusi sekecil apapun untuk sesama.
Agus menceritakan bahwa perjalanan sebagai relawan dimulai ketika dirinya bersama rekannya, Ashari Fajar Nugroho, ditugaskan menjadi bagian dari Tim WASH PMI Jawa Timur yang ditugaskan dari 3 Desember 2025-03 Januari 2026.
Agus menceritakan bahwa perjalanan sebagai relawan dimulai ketika dirinya bersama rekannya, Ashari Fajar Nugroho, ditugaskan menjadi bagian dari Tim WASH PMI Jawa Timur yang ditugaskan dari 3 Desember 2025-03 Januari 2026.
Misi mereka adalah mendistribusikan air bersih ke wilayah terdampak banjir di beberapa kota dan kabupaten di Aceh, termasuk Kota Langsa.
Tantangan terbesar selama misi adalah medan yang sulit dan terbatasnya akses menuju lokasi yang membutuhkan bantuan. Banjir yang menyapu wilayah tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur yang menyulitkan aktivitas harian masyarakat.
Keberhasilan misi sangat bergantung pada koordinasi dan kerjasama tim. Agus menekankan pentingnya sinergi antara PMI pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
Selain tantangan fisik, Agus mengakui tekanan emosional juga menjadi bagian dari perjuangan. Melihat penderitaan korban banjir kadang membuatnya haru dan sangat empati, namun ia tetap menjaga profesionalisme sebagai relawan.
Menjelang akhir masa penugasannya pada 3 Januari 2026, Agus menyampaikan harapannya kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap tanda-tanda alam dan meningkatkan pendidikan serta kesadaran tentang mitigasi bencana.
Kisah Agus Hariadi adalah contoh nyata bahwa tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta dan dedikasi dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain. Semangat altruistik yang ditunjukkan Agus diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam misi kemanusiaan di masa depan.
“Ini bukan sekadar tugas, melainkan panggilan hati untuk membantu masyarakat yang tengah berjuang melawan dampak bencana,” ujar Agus.
Tantangan terbesar selama misi adalah medan yang sulit dan terbatasnya akses menuju lokasi yang membutuhkan bantuan. Banjir yang menyapu wilayah tidak hanya membawa air, tetapi juga lumpur yang menyulitkan aktivitas harian masyarakat.
“Kami harus cepat beradaptasi dan mencari solusi atas setiap kendala, baik dalam distribusi air maupun koordinasi dengan pihak setempat,” jelas Agus.
Keberhasilan misi sangat bergantung pada koordinasi dan kerjasama tim. Agus menekankan pentingnya sinergi antara PMI pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.
“Saya juga terus menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah daerah dan unsur terkait di Kota Langsa untuk memastikan distribusi air bersih sampai ke masyarakat yang paling membutuhkan,” tambahnya.
Selain tantangan fisik, Agus mengakui tekanan emosional juga menjadi bagian dari perjuangan. Melihat penderitaan korban banjir kadang membuatnya haru dan sangat empati, namun ia tetap menjaga profesionalisme sebagai relawan.
“Senyum dan ucapan terima kasih dari warga yang menerima bantuan adalah kepuasan tersendiri yang mendorong saya untuk terus bekerja keras,” ungkap Agus.
Menjelang akhir masa penugasannya pada 3 Januari 2026, Agus menyampaikan harapannya kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap tanda-tanda alam dan meningkatkan pendidikan serta kesadaran tentang mitigasi bencana.
“Pendidikan dan kesadaran tentang mitigasi bencana harus terus ditingkatkan agar dampak bencana bisa diminimalisir,” pesannya.
Kisah Agus Hariadi adalah contoh nyata bahwa tindakan kecil yang dilakukan dengan cinta dan dedikasi dapat memberikan dampak besar bagi kehidupan orang lain. Semangat altruistik yang ditunjukkan Agus diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam misi kemanusiaan di masa depan.
Penulis: Nur A.
Editor: Redaksi

