![]() |
| Relawan PMI dan Warga Bersih-Bersih Lingkungan di Kelurahan Kampung Lapai |
Bencana yang terjadi mengakibatkan lumpur setinggi betis orang dewasa menutupi bagian dalam rumah-rumah warga, memaksa mereka bertahan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Ibu Wahyuni, seorang warga berusia 48 tahun, menceritakan pengalamannya selama tiga hari terakhir harus tinggal di balkon rumahnya karena bagian dalam rumahnya tidak bisa ditempati akibat lumpur.
“Air dari Gunung Padang membawa kayu-kayu gelondongan besar dan lumpur. Kami susah sekali membersihkannya,” ungkap Wahyuni dengan nada prihatin.
Namun, kondisi yang sulit ini mulai membaik dengan kehadiran Tim PMI yang membawa alat dan tenaga untuk membantu pembersihan lingkungan. Wahyuni mengaku sangat lega dan bersyukur atas bantuan yang datang.
“Saya senang sekali akhirnya ada yang bantu bersih-bersih. Rasanya seperti ada harapan,” ujarnya dengan penuh harap.
Tidak hanya Wahyuni, Bapak Davit yang berusia 50 tahun juga merasakan manfaat langsung dari kehadiran Tim PMI. Bersama warga lainnya, Davit aktif membantu proses pembersihan yang dilakukan secara gotong royong. Ia menjelaskan bahwa tumpukan lumpur yang mencapai ketebalan 15 sentimeter sangat menghambat aktivitas sehari-hari warga.
“Air bersih sekarang sudah mulai ada, tinggal bersih-bersih saja. Bersyukur sekali ada tim PMI datang membantu kami. Lumpur ini susah sekali dibersihkan kalau tidak ada alat,” katanya.
Kedatangan Tim Air dan Sanitasi PMI Kota Padang pada Selasa, 9 Desember 2025, menjadi titik awal pemulihan Kampung Lapai. Tim yang terdiri dari empat orang ini membawa peralatan penting seperti satu unit mesin steam dan dua unit tandon kecil yang diangkut menggunakan kendaraan operasional Grand Max. Mereka langsung bergerak menyisir titik-titik terdampak lumpur, termasuk gang-gang sempit yang selama ini sulit dijangkau.
Harkel Fadhzillah Janeva Nasrul, anggota tim PMI, menyampaikan bahwa meskipun peralatan yang dimiliki masih terbatas, sinergi dan kerja sama dengan warga menjadi faktor utama keberhasilan pembersihan.
“Kami butuh cangkul, sekop, dan gerobak tambahan. Untungnya warga juga ikut bersih-bersih dengan alat seadanya,” jelasnya.
Gotong royong antara warga dan relawan PMI membuat pekerjaan yang berat menjadi lebih ringan dan cepat selesai. Upaya ini tidak hanya membersihkan lingkungan secara fisik, tetapi juga mengembalikan semangat dan moral warga yang sempat terpuruk akibat bencana.
Bagi masyarakat Kampung Lapai, kehadiran Tim PMI merupakan simbol solidaritas dan kemanusiaan yang sangat berarti di tengah masa sulit.
“Saat kita melihat ada yang peduli, rasanya kuat kembali,” ujar Wahyuni sembari tersenyum, mengekspresikan rasa syukur atas perhatian yang mereka terima.
Kisah gotong royong di Kampung Lapai ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kebersamaan dalam menghadapi bencana. Sinergi antara warga dan relawan tidak hanya membantu mempercepat pemulihan, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan ketangguhan komunitas.
Dengan semangat yang baru, warga Kampung Lapai kini mulai membangun kembali kehidupan mereka, membuktikan bahwa dalam kebersamaan dan kepedulian, segala tantangan berat dapat diatasi. Semoga semangat ini menjadi inspirasi bagi masyarakat lain dalam menghadapi situasi sulit dan bencana di masa depan.
Penulis: Nur A.
Editor: Redaksi

