lintas6.com, Agam – Di tengah puing dan lumpur sisa banjir bandang yang melanda Nagari Malalak Timur, sosok renta bernama Mariana menjadi simbol keteguhan dan harapan. Nenek berusia 82 tahun ini berhasil selamat dari bencana yang menimpa rumahnya di Jorong Toboh, meski sempat disangka telah gugur.
Saat banjir bandang menerjang, Nenek Mariana berada sendirian di rumahnya. Air datang dengan deras dan cepat, membuatnya terjebak dan tidak mampu menyelamatkan diri. Ketika sebuah tembok rumah roboh diterjang arus, celah itulah yang menjadi jalan bagi seorang ustad di kampung untuk menemukan dan mengevakuasi Mariana ke tempat yang lebih aman di perbukitan.
Warga sempat beranggapan Nenek Mariana menjadi korban jiwa, namun kenyataannya ia selamat dengan kondisi yang cukup kuat. Sehari-hari, Nenek Mariana dikenal sebagai perempuan tangguh yang berjualan kayu manis dan mampu berjalan puluhan kilometer demi menghidupi diri.
Pasca bencana, emosi Nenek Mariana sempat memuncak karena merasa rumahnya belum dibersihkan. Padahal, proses pembersihan dilakukan secara bergantian dan bertahap mengingat keterbatasan tenaga dan situasi darurat. Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) dengan sabar membujuknya untuk menjauh dari puing yang masih rapuh demi keselamatan.
Dengan pendekatan penuh empati, Nenek Mariana akhirnya luluh dan bersedia dievakuasi serta menerima pelayanan kesehatan dari PMI. Kisahnya menjadi pengingat akan ketangguhan manusia dan pentingnya kepedulian di tengah musibah.
Di antara kehancuran dan kesulitan, Nenek Mariana membuktikan bahwa harapan tetap hidup selama ada tangan-tangan yang saling menolong.
Saat banjir bandang menerjang, Nenek Mariana berada sendirian di rumahnya. Air datang dengan deras dan cepat, membuatnya terjebak dan tidak mampu menyelamatkan diri. Ketika sebuah tembok rumah roboh diterjang arus, celah itulah yang menjadi jalan bagi seorang ustad di kampung untuk menemukan dan mengevakuasi Mariana ke tempat yang lebih aman di perbukitan.
Warga sempat beranggapan Nenek Mariana menjadi korban jiwa, namun kenyataannya ia selamat dengan kondisi yang cukup kuat. Sehari-hari, Nenek Mariana dikenal sebagai perempuan tangguh yang berjualan kayu manis dan mampu berjalan puluhan kilometer demi menghidupi diri.
Pasca bencana, emosi Nenek Mariana sempat memuncak karena merasa rumahnya belum dibersihkan. Padahal, proses pembersihan dilakukan secara bergantian dan bertahap mengingat keterbatasan tenaga dan situasi darurat. Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) dengan sabar membujuknya untuk menjauh dari puing yang masih rapuh demi keselamatan.
Dengan pendekatan penuh empati, Nenek Mariana akhirnya luluh dan bersedia dievakuasi serta menerima pelayanan kesehatan dari PMI. Kisahnya menjadi pengingat akan ketangguhan manusia dan pentingnya kepedulian di tengah musibah.
Di antara kehancuran dan kesulitan, Nenek Mariana membuktikan bahwa harapan tetap hidup selama ada tangan-tangan yang saling menolong.
Penulis: Nur A.
Editor: Redaksi

