Notification

×

Iklan

Iklan

Banjir dan Longsor di Agam: Warga Terjebak, Helikopter Jadi Harapan Terakhir!

30 November 2025 | November 30, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-30T15:39:37Z
lintas6.com, Agam - Situasi yang mencekam melanda Kabupaten Agam pada Sabtu (29/11), setelah banjir dan longsor menghantam kawasan Jorong Subarang Aia, Nagari Kampuang Tangah, Kecamatan Palembayan. 

Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerusakan material, tetapi juga melukai sejumlah warga, sehingga membuat daerah yang terdampak terkucil dari akses darat. 

Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Agam, dengan sigap merespon krisis ini, berhasil melakukan evakuasi medis yang mendesak.

Sebanyak delapan warga yang mengalami luka serius, termasuk patah tulang dan robekan pada kepala, memerlukan rujukan medis ke RSUD Lubuk Basung. Namun, dengan akses jalan yang sepenuhnya terputus akibat longsor dan material banjir, evakuasi konvensional melalui darat menjadi mustahil. 

Dalam keadaan darurat seperti ini, helikopter Basarnas muncul sebagai harapan terakhir dan satu-satunya solusi efektif untuk menyelamatkan nyawa para korban.

Ade Alfani, Ketua Bidang Penanggulangan Bencana dan Logistik sekaligus Kepala Markas PMI Agam, menekankan urgensi situasi ini.

 "Sebagian pasien mengalami cedera berat seperti patah tulang dan robek pada bagian belakang kepala dekat telinga. Dengan kondisi akses yang terputus total, rujukan udara menjadi satu-satunya cara agar mereka segera mendapatkan penanganan medis," ujar Ade Alfani.

Helikopter yang digunakan dalam operasi ini direncanakan untuk mendarat di GOR Lubuk Basung. Di sini, pasien akan dipindahkan ke ambulans PMI yang telah bersiaga, dan selanjutnya dibawa ke RSUD Lubuk Basung untuk mendapatkan perawatan lanjutan, yang sangat diperlukan.

Namun, tantangan yang dihadapi warga Nagari Kampuang Tangah tidak berhenti hanya pada kebutuhan evakuasi medis. Kehidupan sehari-hari juga terpukul hebat oleh bencana ini. 

Warga sangat memerlukan bantuan darurat seperti obat-obatan, makanan siap santap, perlengkapan ibu hamil, serta kebutuhan anak-anak dan balita. 

Pemadaman listrik di beberapa titik menambah lapisan kesulitan yang harus mereka hadapi, memperparah keadaan krisis yang sudah ada.

Relawan PMI, bekerja sama dengan aparat gabungan, tidak henti-hentinya berusaha menyalurkan bantuan melalui jalur udara yang tersedia. 

Akses masih sangat terbatas, membuat jalur udara menjadi salah satu pilihan yang paling mungkin dilalui. Alternatif jalur sungai yang tersedia sangat berisiko, dan jalur banjir bandang atau galodo yang ada dinilai tidak stabil dan berbahaya.

Keselamatan menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah yang diambil oleh PMI dan tim penyelamat lainnya. 

Dalam kondisi bencana alam yang membahayakan seperti ini, setiap keputusan harus diambil dengan berhati-hati dan terukur. 

Evakuasi dan distribusi bantuan memerlukan strategi yang tak hanya cepat, tetapi juga aman bagi semua pihak yang terlibat.

Situasi ini menggarisbawahi pentingnya koordinasi cepat dan efektif antara tim penyelamat, pemerintah, dan organisasi bantuan dalam menangani krisis bencana alam. 

Respon cepat yang ditunjukkan oleh PMI dan para relawan lainnya menjadi bukti nyata dedikasi mereka dalam melayani masyarakat, bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun. 

Ketika semua akses terputus, helikopter tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi sebuah simbol harapan bagi mereka yang terjebak dalam kegelapan akibat bencana. 

Dengan bantuan yang terus mengalir dan upaya penyelamatan yang berlanjut, warga Nagari Kampuang Tangah tetap menanti masa depan yang lebih cerah dan aman.

Penulis: Nur A. 
Editor: Redaksi
close