HOT NEWS

BMKG Jelaskan Hubungan Tumbuk 10 Oktober dengan Perubahan Musim


LINTAS6.com, NGANJUK - Istilah tumbuk yang dikenal dalam ilmu titen masyarakat Jawa kembali menjadi perhatian setiap memasuki tanggal 10 Oktober. Dalam tradisi tersebut, tumbuk dipercaya sebagai penanda puncak panas menjelang datangnya musim hujan.

Pengamatan turun-temurun ini lahir dari pengalaman masyarakat dalam membaca pola alam yang berlangsung berulang selama bertahun-tahun.

Prakirawan BMKG Stamet Nganjuk, Yaris, menjelaskan bahwa secara ilmiah terdapat sejumlah fenomena yang membuat periode Oktober sering terasa panas dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

"Kearifan lokal tumbuk pada dasarnya merupakan hasil observasi masyarakat terhadap perubahan musim. Fenomena ini memiliki kesesuaian dengan kondisi alam yang memang terjadi pada masa transisi kemarau menuju musim hujan," ujarnya.

Secara astronomi, posisi semu Matahari pada Oktober berada di wilayah selatan khatulistiwa. Dampaknya, beberapa daerah di Pulau Jawa menerima penyinaran yang relatif optimal ketika awan masih sedikit.

Data klimatologis menunjukkan bahwa Oktober merupakan masa pancaroba. Pada fase ini suhu udara siang hari sering terasa panas, sedangkan sore hingga malam dapat muncul hujan lokal akibat pertumbuhan awan konvektif.

Namun Yaris menekankan bahwa 10 Oktober bukan tanggal pasti terjadinya suhu maksimum tahunan.

"Kondisi cuaca sangat dinamis. Ada wilayah yang dapat mengalami suhu tertinggi sebelum atau sesudah tanggal tersebut. Karena itu tumbuk sebaiknya dipahami sebagai penanda musim, bukan prediksi cuaca harian," katanya.

Manfaat memahami ilmu titen adalah membantu masyarakat mengenali kecenderungan perubahan musim berdasarkan pengalaman lokal. Pengetahuan tersebut dapat berguna bagi petani, nelayan, maupun masyarakat umum dalam merencanakan aktivitas.

Di sisi lain, informasi meteorologi modern memberikan data yang lebih rinci terkait peluang hujan, suhu udara, angin, dan potensi cuaca ekstrem.

Perpaduan keduanya menjadi nilai penting. Kearifan lokal dapat menjadi referensi budaya yang memperkaya pemahaman masyarakat, sementara data BMKG menjadi dasar keputusan yang lebih akurat.

Masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca pada masa pancaroba. Kondisi panas pada siang hari dapat berubah menjadi hujan disertai petir pada sore atau malam hari.

"Yang terpenting adalah memahami bahwa alam memiliki variasi setiap tahun. Oleh karena itu informasi cuaca resmi tetap menjadi rujukan utama dalam menghadapi perubahan musim," tutur Yaris.


Penulis: Nur A. 
Editor: Redaksi
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image