Banyak yang Peduli Korban Bencana, Siapa yang Menjaga Relawan?

LINTAS6.com, NAGEKEO – Ketika gempa bumi mengguncang Flores, para relawan menjadi bagian dari kelompok yang bergerak cepat membantu masyarakat terdampak. Mereka membantu asesmen kebutuhan, mendistribusikan bantuan, mendukung pelayanan kemanusiaan, serta hadir di tengah masyarakat yang sedang menghadapi masa sulit. Namun di balik berbagai tugas tersebut, terdapat satu hal yang sering luput dari perhatian, yakni kondisi psikologis para relawan itu sendiri.
Karena itu, dukungan psikososial relawan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kualitas pelayanan kemanusiaan. Kesadaran tersebut mendorong PMI Kabupaten Nagekeo menyelenggarakan kegiatan Dukungan Kelompok melalui layanan Dukungan Psikososial (PSS/PSP) pada Senin, 19 Oktober 2026, di Markas PMI Nagekeo.
Kegiatan tersebut diikuti 13 relawan yang sebelumnya terlibat dalam pelayanan Tanggap Darurat Bencana (TDB) gempa bumi Flores. Para peserta terdiri atas 11 relawan laki-laki dan dua relawan perempuan.
Didampingi fasilitator PSS PMI Pusat, Wahyu Nurwasi Rofiah dan Deby Marvira, para relawan memperoleh kesempatan untuk berbagi pengalaman, menyampaikan perasaan, serta saling memberikan dukungan setelah menjalani berbagai tugas di lapangan.
Tantangan yang Tidak Selalu Terlihat
Ketika masyarakat melihat relawan membagikan bantuan atau membantu korban bencana, yang tampak adalah semangat dan kesiapan mereka dalam melayani. Namun kenyataannya, relawan juga berhadapan dengan berbagai tekanan selama menjalankan tugas.
Mereka mendengarkan cerita kehilangan dari warga, menyaksikan dampak kerusakan akibat bencana, bekerja dalam keterbatasan waktu, serta harus tetap menjaga fokus di tengah berbagai kondisi yang tidak mudah.
Tekanan tersebut tidak selalu menimbulkan masalah psikologis, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi semangat, motivasi, hingga kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Karena itulah dukungan psikososial tidak hanya ditujukan kepada penyintas bencana, tetapi juga kepada relawan sebagai bagian penting dalam sistem kemanusiaan.
Ruang Aman untuk Berbagi Pengalaman
Dalam kegiatan Dukungan Kelompok, setiap peserta diajak menceritakan pengalaman yang paling berkesan selama bertugas.
Ada yang berbagi mengenai momen ketika pertama kali bertemu masyarakat terdampak gempa. Ada yang bercerita tentang tantangan menjaga semangat selama pelayanan berlangsung. Ada pula yang mengungkapkan rasa haru ketika melihat masyarakat bangkit secara perlahan setelah menerima bantuan.
Suasana berlangsung hangat dan penuh empati.
Alih-alih memberikan penilaian, seluruh peserta diajak untuk saling mendengarkan. Pendekatan ini membantu relawan memahami bahwa setiap orang dapat memiliki reaksi yang berbeda ketika menghadapi situasi kemanusiaan.
Perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar dan perlu diterima sebagai bagian dari pengalaman manusia.
Menyadari Tidak Berjuang Sendiri
Salah seorang peserta, Ici, mengaku memperoleh pengalaman berharga melalui kegiatan tersebut.
“Selama terlibat dalam pelayanan kepada masyarakat terdampak gempa, ada banyak pengalaman yang kami rasakan, baik yang menyenangkan maupun yang cukup berat. Melalui kegiatan ini, kami mendapat kesempatan untuk berbagi cerita dan mendengarkan pengalaman teman-teman relawan lainnya. Kami menyadari bahwa kami tidak berjalan sendiri. Dukungan seperti ini membuat kami merasa lebih kuat dan semakin bersemangat untuk terus membantu masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa dukungan dari sesama relawan memiliki peran besar dalam menjaga ketangguhan individu.
Sering kali kekuatan bukan hanya datang dari pelatihan atau pengalaman, tetapi juga dari kesadaran bahwa ada orang lain yang memahami apa yang sedang dirasakan.
Investasi Jangka Panjang bagi Pelayanan Kemanusiaan
Fasilitator kegiatan, Wahyu Nurwasi Rofiah, menjelaskan bahwa menjaga kesehatan psikologis relawan merupakan bagian dari upaya membangun pelayanan kemanusiaan yang berkelanjutan.
Menurutnya, relawan juga manusia yang dapat mengalami kelelahan dan tekanan selama bertugas.
“Relawan juga manusia yang memiliki perasaan, mengalami kelelahan, dan menghadapi tekanan selama menjalankan tugas. Karena itu, penting bagi kita untuk menyediakan ruang bagi mereka untuk bercerita, saling mendengarkan, dan memberikan dukungan,” jelasnya.
Dalam perspektif kemanusiaan modern, dukungan psikososial tidak lagi dipandang sebagai program tambahan. Dukungan tersebut menjadi bagian dari kebutuhan dasar agar relawan dapat tetap menjalankan tugas secara sehat, aman, dan profesional.
Manfaat bagi Masyarakat
Relawan yang sehat secara psikologis memiliki kemampuan lebih baik dalam mengambil keputusan, berkomunikasi dengan masyarakat, serta bekerja sama dengan anggota tim lainnya.
Artinya, menjaga kesehatan psikologis relawan bukan hanya memberikan manfaat kepada relawan itu sendiri, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan yang diterima masyarakat.
Ketua PMI Kabupaten Nagekeo, Kristianus Pantaleon Jogo, menegaskan bahwa perhatian terhadap relawan merupakan bagian tidak terpisahkan dari pelayanan kemanusiaan.
“Relawan adalah garda terdepan dalam banyak pelayanan kemanusiaan. Mereka hadir membantu masyarakat di tengah situasi sulit, tetapi kita juga harus memastikan bahwa mereka mendapatkan dukungan yang dibutuhkan,” ujarnya.
Membangun Budaya Saling Peduli
Kegiatan Dukungan Kelompok yang dilaksanakan PMI Nagekeo memperlihatkan bahwa budaya kemanusiaan tidak hanya berbicara mengenai membantu masyarakat, tetapi juga tentang menjaga sesama relawan.
Ketika relawan saling mendukung, berbagi pengalaman, dan membangun empati, maka ketangguhan tim akan tumbuh lebih kuat.
Di tengah berbagai tantangan kebencanaan yang terus muncul, pendekatan seperti ini menjadi investasi penting untuk membangun relawan yang tangguh, peduli, dan siap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.